Logo Bloomberg Technoz

Di Luar Negeri, Rupiah Sudah di Bawah Rp18.000/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
17 July 2026 08:02

Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah mendapat ruang penguatan di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF). Pada sesi perdagangan Jumat (17/7/2026), rupiah dibuka stagnan di Rp18.003/US$, lalu bergerak menguat terbatas 0,03% ke posisi Rp17.998/US$. 

Ruang penguatan rupiah datang dari koreksi dolar Amerika Serikat (AS) yang menyusut 0,05% dan membuat indeks dolar AS berada di posisi 100,71. Meski harga minyak mentah Brent kembali menguat 0,77% menjadi US$84,88 per barel, tetapi pergerakan rupiah hari ini tertopang oleh angka realisasi investasi Indonesia pada kuartal II-2026 yang tercatat tumbuh 7,1% secara tahunan, mencapai Rp511,8 triliun. 

Dari jumlah tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat Rp257,7 triliun. Secara kumulatif, realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, naik 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan PMA sebesar Rp507,6 triliun. 


Memang ruang penguatan rupiah akan relatif terbatas, mengingat harga minyak mentah masih berpotensi naik lantaran ketegangan di Timur Tengah tak kunjung mengendur. 

Pergerakan mata uang kawasan Asia, Jumat (17/7/2026). (Bloomberg)

Sementara, mata uang Asia pagi ini belum banyak berubah. Hanya ringgit Malaysia yang melemah 0,16%, disusul dolar Singapura dan yuan offshore dengan pelemahan terbatas.