Logo Bloomberg Technoz

Keempat, Josua mewanti-wanti mengenai risiko terhadap bank dan lembaga pembiayaan dapat menjadi lebih berhati-hati karena risiko kredit meningkat.

Kelima, konsumsi rumah tangga dapat melemah jika harga barang naik dan cicilan kredit ikut meningkat.

Menurut Josua, Kenaikan harga minyak global tidak selalu langsung menaikkan inflasi selama harga BBM dikendalikan pemerintah, tetapi ketika harga BBM akhirnya naik, inflasi historis cenderung melonjak signifikan.

“Artinya, risiko terbesar bukan inflasi hari ini, melainkan tekanan biaya yang menumpuk dan akhirnya harus dibayar oleh APBN, korporasi, atau konsumen,” kata Josua.

Sementara itu, dari sisi pasar, level Rp18.000 juga berbahaya secara psikologis. Hal ini lantaran ketika rupiah menembus Rp18.000, IHSG jatuh ke level terendah hampir enam tahun, investor asing menjual saham, dan setelah momentum depresiasi terbentuk, pergerakan USD/IDR bisa menjadi tidak linear.

“Ini artinya pelemahan rupiah tidak lagi bergerak pelan mengikuti fundamental, tetapi bisa dipercepat oleh kepanikan, posisi lindung nilai, dan perilaku ikut-ikutan pelaku pasar.” lanjutnya.

Cegah Pasar Lihat Rp18.000 Sebagai Nilai Normal Baru

Dalam situasi seperti ini, Josua menyarankan BI untuk perlu mencegah pasar membaca Rp18.000 sebagai level normal baru. Jika tidak, eksportir bisa menahan devisa, importir mempercepat pembelian dolar, korporasi memperbesar lindung nilai, dan rumah tangga mulai menambah permintaan dolar untuk berjaga-jaga.

“Meski demikian, saya tetap melihat rupiah saat ini sudah berada di bawah nilai wajarnya. REER Mei 2026 diperkirakan rupiah undervalued lebih dari 5%, dengan nilai wajar USD/IDR berada di bawah level Rp17.000,” kata Josua.

Namun Josua mengingatkan bahwa undervalued tidak berarti rupiah otomatis menguat dalam waktu dekat. Dalam periode tekanan pasar, kurs bisa menyimpang jauh dari nilai fundamental karena investor lebih melihat risiko likuiditas, fiskal, arus modal, dan ketidakpastian kebijakan.

Sehingga, Josua beranggapan jika pernyataan bahwa rupiah undervalued tetap benar dari sisi valuasi, tetapi pasar saat ini sedang meminta bukti bahwa pemerintah dan BI mampu mengembalikan kepercayaan.

Menurut Josua, dalam menghadapi hal ini respons terbaik adalah berlapis. BI perlu memperkuat intervensi secara terukur di pasar spot, DNDF, dan NDF luar negeri, menjaga SRBI tetap menarik, serta membeli SBN di pasar sekunder untuk mencegah lonjakan yield yang memperburuk sentimen.

“Kemenkeu perlu memberi kepastian bahwa defisit tetap terkendali, subsidi energi dikelola transparan, dan penerbitan SBN tidak dipaksakan saat pasar meminta bunga terlalu mahal,” katanya.

Sementara Pemerintah perlu menjelaskan kebijakan DHE SDA dan tata kelola ekspor agar tidak menimbulkan kesan kontrol berlebihan terhadap sektor komoditas.

Di sisi lain, Josua menyebut bahwa OJK dan BEI perlu mempercepat reformasi pasar modal karena tekanan MSCI dan aksi jual saham ikut memperlemah rupiah. BI sendiri sudah menyatakan akan meningkatkan intensitas intervensi dan tetap hadir di pasar spot, DNDF domestik, NDF luar negeri, serta membeli SBN di pasar sekunder.

(ell)

No more pages