Logo Bloomberg Technoz

Di Luar Negeri, Rupiah Coba Bertahan di Bawah Rp18.000/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
20 July 2026 08:40

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Foward (NDF) cukup volatil. Rupiah sempat membuka sesi perdagangan hari ini, Senin (20/7/2026) dengan penguatan 0,04% di Rp17.985/US$.

Lalu melemah ke Rp18.010/US$ pada 07:00 WIB, kemudian memangkas sebagian pelemahannya menjadi Rp17.999/US$ pada 08:03 WIB. 

Rupiah offshore. (Bloomberg)

Ketidakpastian yang terjadi di Timur Tengah turut menahan penguatan rupiah hari ini, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang. Pasar membaca bahwa eskalasi konflik yang terjadi masih jauh dari mereda, setelah seranggan Iran pada Jumat, disebut menewaskan dua personel militer AS di Yordania. 


Situasi ini membuat harga minyak mentah Brent kembali terkerek naik 2,61% menjadi US$90,4 per barel pada 07.35 WIB, melanjutkan tren kenaikan yang terjadi sejak awal pekan lalu. Begitu juga dengan indeks dolar AS masih bertahan tinggi di 100,8. 

Di tengah meningkatnya ketidakpastian, pergerakan mata uang Asia justru cukup beragam. Penguatan cukup tajam terjadi pada ringgit Malaysia, disusul yuan offshore yang menguat terbatas. Sementara, mata uang lainnya melemah merespons ketidakpastian di Timur Tengah. 

Mata uang Asia pada Senin (20/7/2026) pagi, 07.30 WIB.