Logo Bloomberg Technoz

Fakhrul menilai pemerintah memang memiliki kepentingan yang sah untuk menjaga biaya pendanaan (cost of fund) tetap rendah, terutama di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan yang besar.

Namun dalam situasi saat ini, ketika stabilisasi Rupiah menjadi prioritas utama, terdapat trade-off yang perlu diterima.

"Kita harus jujur bahwa menjaga rupiah dan menjaga biaya pendanaan murah secara bersamaan tidak selalu bisa dilakukan dalam waktu yang sama,” kata Fakhrul.

“Jika fokus utama saat ini adalah menghentikan depresiasi Rupiah dan mengembalikan kepercayaan pasar, maka long end of the curve perlu diberikan ruang untuk menemukan harga yang lebih wajar,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab tekanan terhadap rupiah adalah persepsi investor bahwa premi risiko Indonesia saat ini belum sepenuhnya tercermin dalam pasar obligasi jangka panjang.

Menurut dia, perbaikan struktur kurva imbal hasil justru akan membantu memperkuat stabilitas jangka panjang dan mengurangi tekanan terhadap Rupiah.

Ia menambahkan bahwa ruang untuk kembali mendorong pertumbuhan secara agresif tetap terbuka setelah stabilitas berhasil dipulihkan.

“Ketika investor melihat rupiah melemah, tetapi obligasi jangka panjang tidak memberikan premi tambahan yang memadai, maka insentif untuk menahan aset Rupiah menjadi berkurang,” tuturnya.

Rupiah menutup perdagangan Jumat (29/5/2026), dengan pelemahan 0,48% ke posisi Rp17.874/US$. Ini menjadi posisi rupiah yang terlemah sepanjang sejarah.

Sepanjang bulan ini, mata uang Ibu Pertiwi membukukan depresiasi 2,91%. Rupiah pun sah melemah tiga bulan beruntun.

Sepanjang Mei, rupiah jadi mata uang terlemah di Benua Kuning. Di atas rupiah ada won yang terdepresiasi 2,1% dan yen Jepang yang melemah 1,67%.

Tekanan terjadi pada rupiah sepanjang Mei ini telah menggerus rupiah sebanyak 2,91%, dan memposisikannya sebagai mata uang terlemah bulan ini. Setelah rupiah menyusul won Korea Selatan yang melemah 2,1%, lalu yen Jepang 1,67%. 

Jika ditarik lagi ke belakang, maka pelemahan rupiah sejak awal kuartal II-2026 mencapai 4,92%. 

Harry Su, Managing Director Research di Samuel Sekuritas, menyebut rupiah masih dibayangi oleh pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan.

Selain itu, dia menambahkan rupiah juga masih dibayangi risiko penurunan prospek atau peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global, seperti Moody's, S&P, atau Fitch akan memicu kepanikan investor obligasi dan menambah aliran modal keluar. 

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati kebijakan baru yang mewajibkan eksportir menempatkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri.

(naw)

No more pages