“Saat ini faktor pelemahan lebih dikarenakan sentimen karena minimnya trust terhadap administrasi Indonesia saat ini,” kata dia saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).
Tak hanya itu, penyebab lainnya yakni faktor musiman pembayaran return seperti kebutuhan Haji hingga sentimen negatif terkait tata kelola fiskal dan capital flow. Dia meyakini Bank Indonesia (BI) akan berusaha membuat rupiah agar tidak tembus di level Rp18.000/US$.
“Pada Juni pola musiman seperti pembayaran dividen juga masih akan berlangsung. Tapi Haji sudah selesai namun sudah memasuki masa libur sekolah. Artinya tekanan pelemahan masih akan ada di Juni,” ujarnya.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan kembali menguat mulai Juli-Agustus 2026 setelah mengalami pelemahan beberapa bulan berturut-turut.
Perry menyebut nilai tukar rupiah secara year to date sudah di angka Rp16.900/US$. Dia meyakini rupiah akan kembali menguat seperti dalam rentang asumsi makro yakni Rp16.200/US$ - Rp16.800/US$.
Dia menjelaskan rupiah yang terus melemah saat ini merupakan faktor musiman lantaran pada April, Mei dan Juni terdapat permintaan yang tinggi terhadap valuta asing serta pembayaran dividen dan utang.
“Sehingga kenapa meyakini nanti insya Allah ada pengalaman dari kami. Kebetulan saya tidak ingin sombong, kebetulan saya memang hidup dari krisis ke krisis. 1997-1998 juga saya ikut di sana, 2008 global seperti itu, taper tantrum juga seperti itu, Covid juga begitu, memang tekanan-tekanan nilai tukar itu umumnya kalau Juli, Agustus, dan semuanya itu akan menguat,” jelas Perry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).
(mfd/lav)




























