Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Naik, Rupiah Tergelincir 0,28% ke Rp18.105/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
13 July 2026 15:31

Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Senin (13/7/2026) dengan pelemahan 0,28% ke posisi Rp18.105/US$, seiring kembali meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, dan membuat kekhawatiran inflasi kembali muncul. 

Ketidakpastian yang kembali terjadi di Selat Hormuz membuat harga minyak mentah Brent terkerek 3,57% menjadi US$78 per barel, dan membawa sebagian besar mata uang Asia bergerak di zona merah hari ini. 

Melansir data Bloomberg, rupee India melemah paling tajam, disusul oleh rupiah, dan yen Jepang. Peso Filipina juga melemah meski relatif terbatas bersama yuan China, dolar Singapura, baht Thailand, ringgit Malaysia, dan dolar Taiwan, serta yuan offshore. Sebaliknya, hanya won Korea Selatan yang menguat. 

Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan Senin (13/7/2026). (Bloomberg)

"Pasar Asia membuka perdagangan pekan ini dalam mode risk-off setelah AS memperluas serangan militernya terhadap Iran pada akhir pekan," kata Wee Khoon Chong, APAC Marco Strategist di BNY, seperti dikutip Bloomberg News. 

Pelemahan yang tajam terjadi pada rupee dan rupiah. Rupee India melemah setelah kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi dan pelemabarna defisit transaksi berjalan.