Logo Bloomberg Technoz

Geger Hari Pertama Sekolah Diwarnai Ancaman Bom di Jagakarsa

Andrean Kristianto
13 July 2026 14:05

Personel Gegana melakukan penjagaan setelah ancaman dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Senin (13/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Personel Gegana melakukan penjagaan setelah ancaman dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Senin (13/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Ancaman teror ini bertepatan dengan hari pertama sekolah tahun ajaran 2026-2027.  (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Ancaman teror ini bertepatan dengan hari pertama sekolah tahun ajaran 2026-2027. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Sejauh ini, polisi tidak menemukan adanya bahan peledak. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Sejauh ini, polisi tidak menemukan adanya bahan peledak. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Namun, seluruh siswa sudah dievakuasi keluar dari kawasan sekolah. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Namun, seluruh siswa sudah dievakuasi keluar dari kawasan sekolah. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Ancaman atau teror bom berawal dari pesan pada aplikasi WhatsApp guru dan petugas tata usaha (TU) SDN Jagakarsa.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Ancaman atau teror bom berawal dari pesan pada aplikasi WhatsApp guru dan petugas tata usaha (TU) SDN Jagakarsa.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Para guru dan petugas TU baru mengetahui pesan teror usai upacara dan langsung melaporkannya ke kepolisian. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Para guru dan petugas TU baru mengetahui pesan teror usai upacara dan langsung melaporkannya ke kepolisian. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Tim Gegana Polri dan Densus 88 Antiteror tidak menemukan bom atau bahan peledak setelah lebih dari dua jam menyisir area SDN Srengseng Sawah 15.

Tim Gegana Polri dan Densus 88 Antiteror tidak menemukan bom atau bahan peledak setelah lebih dari dua jam menyisir area SDN Srengseng Sawah 15.

Personel Gegana melakukan penjagaan setelah ancaman dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Senin (13/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Ancaman teror ini bertepatan dengan hari pertama sekolah tahun ajaran 2026-2027.  (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Sejauh ini, polisi tidak menemukan adanya bahan peledak. (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Namun, seluruh siswa sudah dievakuasi keluar dari kawasan sekolah. (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Ancaman atau teror bom berawal dari pesan pada aplikasi WhatsApp guru dan petugas tata usaha (TU) SDN Jagakarsa.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Para guru dan petugas TU baru mengetahui pesan teror usai upacara dan langsung melaporkannya ke kepolisian. (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Tim Gegana Polri dan Densus 88 Antiteror tidak menemukan bom atau bahan peledak setelah lebih dari dua jam menyisir area SDN Srengseng Sawah 15.

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kepolisian atau Polri melakukan pengecekan informasi mengenai ancaman bom yang terjadi di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada hari ini, Senin (13/07/2026). Ancaman teror ini bertepatan dengan hari pertama sekolah tahun ajaran 2026-2027. 

Kepala Kepolisian Sektor atau Kapolsek Jagakarsa Komisaris Nurma Dewi mengatakan tim Gerakan Khusus dan Penanganan (Gegana) dan Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri (Densus 88) sudah melakukan pengecekan. Sejauh ini, polisi tidak menemukan adanya bahan peledak.

Namun, seluruh siswa sudah dievakuasi keluar dari sekolah. "Ini sudah dicek Gegana dan Densus 88, nihil tetapi masih disisir, lagi disisir," ujar Nurma kepada awak media. 

Dia mengatakan ancaman atau teror bom berawal dari pesan pada aplikasi WhatsAppguru dan petugas tata usaha (TU) SDN Jagakarsa pagi ini. Para penerima pesan terlambat mengetahui pesan ancaman karena seluruh guru, karyawan, dan siswa tengah melakukan upacara pembukaan tahun ajaran baru. Para guru dan petugas TU baru mengetahui pesan teror usai upacara dan langsung melaporkannya ke kepolisian.

Hingga saat ini, belum ada informasi tentang kebenaran ancaman teror yang ditebar kepada guru dan petugas TU di SDN Jagakarta tersebut.

"Laporannya [pesan teror masuk] pukul 07.30 WIB, tetapi memang di WhatsApp itu orang lagi pada upacara. Sudah upacara [penerima pesan] baru melihat. Kita langsung datang semuanya; [polisi], camat, lurah," ujar Nurma.

(dre/ain)