Dilema Diskon LNG: Hulu Gas Merugi, Hilir Waswas Kepastian Energi
Sabrina Mulia Rhamadanty
14 July 2026 10:10

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kebijakan diskon harga gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari nilai keekonomian di rentang US$20—US$23/MMBtu menjadi hanya US$13/MMBtu bagi sektor domestik saat ini dinilai bagaikan pisau bermata dua.
Di satu sisi, sektor hulu migas merasa tercekik karena harus menjual gas di bawah harga pasar. Di sisi lain, sektor industri hilir seperti manufaktur juga belum mendapat kepastian terkait dengan pasokan gas murah tersebut.
Menanggapi fenomena ini, Founder sekaligus Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menawarkan sejumlah solusi strategis agar industri nasional tetap bertahan tanpa mengorbankan iklim investasi hulu migas.
Pri Agung menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah taktis untuk menjembatani jurang harga yang terlampau besar untuk mengakomodasi kebijakan diskon LNG yang berlaku hingga 31 Desember 2026 itu.
"Pemberlakuan subsidi silang fiskal dapat dilakukan untuk menambal selisih harga gas LNG dari US$20/MMBtu [harga LNG normal] batas aman daya tahan industri di kisaran US$9—US$10/MMBtu menggunakan alokasi dana penerimaan negara bukan pajak [PNBP] hulu migas, khusus untuk industri padat karya yang berkomitmen tidak melakukan PHK," ujar Pri Agung saat dihubungi, Selasa (14/7/2026).































