Logo Bloomberg Technoz

Selat Hormuz Kembali Panas, Rupiah Awali Pekan di Zona Merah

Tim Riset Bloomberg Technoz
13 July 2026 09:08

Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah mengawali pekan hari pertama perdagangan spot pekan ini dengan pelemahan. Pada Senin (13/7/2026), rupiah melemah 0,11% di level Rp18.075/US$ seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) lantaran permintaan aset safe haven kembali meningkat. 

Tak lama berselang, rupiah kembali melanjutkan pelemahan 0,19% ke posisi Rp18.089/US$ pada 09.02 WIB. 

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama bertahan di level 101,12, bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 4,26% ke posisi US$79,25 per barel pada pukul 08.48 WIB. Kombinasi tersebut memicu pelemahan pada sebagian besar mata uang Asia. 


Won Korea Selatan melemah paling dalam, disusul yen Jepang, dolar Singapura, baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan yuan China, serta dolar Hong Kong. Sebaliknya, hanya dolar Taiwan tercatat menguat 0,29%, lalu penguatannya terpangkas menjadi 0,19% pada 09.04 WIB. 

Pergerakan mata uang Asia pada Senin (13/7/2026). (Bloomberg)

Pelemahan yang terjadi di pasar valuta asing Asia dipicu oleh kembali meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan. Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Meski otoritas maritim menyatakan arus pelayaran masih berlangsung, klaim Iran mengenai penutupan selat tersebut cukup untuk mendorong investor memburu aset-aset safe haven.