Gerak Rupiah Dibayangi Lonjakan Harga Minyak
Tim Riset Bloomberg Technoz
13 July 2026 08:18

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) stagnan di level Rp18.109/US$ pada sesi pembukaan perdagangan. Tak lama berselang, rupiah berubah tipis dan melemah 0,09% menjadi Rp18.126/US$ pada 08.10 WIB.
Di tengah penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang bertahan di level 101,12, rupiah dan mata uang Asia melanjutkan tren pelemahannya pada sesi perdagangan hari ini. Pelemahan telah terlihat pada pasar yang sudah buka. Won Korea Selatan melemah paling tajam, disusul baht Thailand, yen Jepang, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan yuan offshore.
Pelemahan pada mata uang kawasan dipicu oleh kenaikan harga minyak akibat ketidakpastian kembali terjadi pada Selat Hormuz. Baru-baru ini, AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan, di tengah pernyataan yang saling bertentangan mengenai status Selat Hormuz. Harga minyak Brent kembali melonjak 3,99% ke level US$79,04 per barel pada 07.45 WIB, didorong oleh simpang siurnya informasi mengenai kondisi Selat Hormuz. Di tengah kondisi global yang diliputi ketidakpastian, mata uang kawasan diperkirakan hari ini akan bergerak fluktuatif.
Sementara itu pasar obligasi yield US Treasury tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, naik 3 basis poin (bps) menjadi 4,23%, level tertinggi sejak Februari 2025. Obligasi pemerintah Australia dan Jepang juga ikut tertekan.
Sementara, yield Surat Utang Negara (SUN) RI belum menunjukkan pergerakannya setelah pada perdagangan pekan lalu mengalami aksi beli yang ditopang oleh masuknya bank-bank Himbara menggunakan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang disuntik oleh Kementerian Keuangan.





























