Ketika biaya impor naik, pelaku usaha menghadapi peningkatan ongkos produksi. Dampaknya, kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan ke harga barang dan jasa di tingkat konsumen.
Aida memandang, dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi kini semakin berkurang. Salah satunya karena tersedianya instrumen lindung nilai (hedging) sehingga pelaku usaha dapat mengurangi risiko fluktuasi kurs.
Perhatian BI, kata dia, saat ini justru lebih tertuju pada risiko kenaikan harga komoditas global akibat ketegangan geopolitik dan gangguan rantai pasok ssbagu imbas dari perang Timur Tengah yang terjadi sejak awal Maret lalu, yang turut membuat penutupan Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia.
Hal ini telah mendorong kenaikan berbagai harga komoditas dunia. "Harga minyak sebagai contoh, Brent pada awal minggu ini secara year-to-date sudah mencapai US$93 per barel," ujar Aida.
Tak hanya minyak, harga komoditas lain seperti LNG, batu bara, CPO, nikel, hingga komoditas substitusi lainnya juga mengalami kenaikan.
Menurut BI, situasi ini berpotensi memicu kenaikan biaya energi dan harga sejumlah barang. Meski demikian, BI menilai dampaknya terhadap inflasi nasional masih terbatas.
"Yang sudah jelas adalah sekarang ini kita menghadapi kenaikan BBM non-subsidi dan avtur, ini mengakibatkan kenaikan di administered prices, tetapi untuk harga-harga inflasi lainnya, seperti dari inti, volatile food, ini masih terus terjaga," tegas dia.
BI, kata dia, tetap memperkirakan inflasi selama 2026-2027 masih terjaga pada sasarannya 2,5% plus minus 1%.
Dengan Asistensi Mis Fransiska
(ibn/ell)






























