China yang Kini Tak Cuma Sekadar Pasar Teknologi Terbesar
Merinda Faradianti
21 May 2026 13:46

Bloomberg Technoz, Jakarta - China disebut melaju paling cepat dalam adopsi kecerdasan buatan atau AI enterprise, robotika, hingga ekonomi digital berbasis token. Dalam ajang International Data Corporation (IDC) Directions 2026 di Beijing, China menjadi salah satu pasar AI dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan mulai meninggalkan banyak negara lain dalam perlombaan pengembangan AI.
IDC menyampaikan bahwa belanja artificial intelligence enterprise global diperkirakan akan mencapai US$940 miliar pada 2026 dan terus melonjak hingga US$2,1 triliun pada 2029.
“IDC telah berada di lapangan di sini sejak 1986, dan kami belum pernah melihat laju perubahan bergerak lebih cepat daripada sekarang,” kata Lorenzo Larini, CEO IDC, dikutip dalam laporan yang sama, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, China kini bukan lagi sekadar pasar teknologi besar, melainkan kekuatan utama yang ikut membentuk arah perkembangan teknologi global. IDC menjelaskan, industri AI global kini memasuki fase kedua dari AI Supercycle.
Jika fase pertama berfokus pada pembangunan infrastruktur, model dasar, dan komputasi, fase kedua kini bergerak menuju implementasi AI di tingkat enterprise melalui layanan cerdas dan Agentic AI dalam skala besar.
AI Masuk Fase Baru
Managing Director IDC China, Kitty Fok mengatakan bahwa ledakan penggunaan AI enterprise kini mulai terjadi secara global.
Salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di China adalah embodied intelligence atau AI robotik.
IDC memperkirakan belanja China di sektor tersebut akan melonjak dari US$1,4 miliar menjadi US$77 miliar dalam lima tahun ke depan, dengan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) mencapai 94%.
China juga diproyeksikan menjadi pasar robotika terbesar di dunia pada 2029. Produsen asal China disebut telah memimpin pengiriman global di berbagai kategori robot.
Selain robotika, IDC menyoroti pertumbuhan ekstrem pasar Model-as-a-Service (MaaS) China. Pasar MaaS China diperkirakan tumbuh dengan CAGR 1.154,9% pada periode 2024–2030 dan mencapai 40.000 triliun token calls pada 2026.
IDC memperkirakan pendapatan pasar MaaS China akan mencapai sekitar 18,6 miliar yuan pada 2026. Saat ini lebih dari 60% perusahaan besar di China telah mengintegrasikan AI generatif ke dalam proses bisnis inti mereka.
IDC juga menyebut token kini menjadi satuan utama dalam ekonomi AI enterprise, baik dari sisi biaya maupun nilai bisnis. Pergeseran industri AI disebut bergerak dari sekadar generasi konten menuju eksekusi otomatis berbasis AI agent.
Di sisi infrastruktur, IDC memperkirakan pasar server accelerated computing global akan melampaui US$1 triliun pada 2029 dengan pertumbuhan lebih dari 30% per tahun.
Persaingan AI kmeudian mulai bergeser. Jika sebelumnya fokus utama ada pada kekuatan komputasi mendasar atau FLOPS, kini efisiensi tokens per watt menjadi indikator baru yang lebih penting untuk mengukur kemampuan sistem AI menghasilkan output dengan konsumsi energi serendah mungkin.
IDC memperkirakan pada 2027 lebih dari 70% kebutuhan komputasi AI akan berasal dari inference atau proses penggunaan model AI, bukan lagi pelatihan model.
Di China sendiri, transformasi ekonomi digital juga dipercepat melalui implementasi Rencana Lima Tahun ke-15 yang dimulai pada 2026. IDC menyebut tiga fokus utama China adalah penciptaan peluang bisnis baru, kedaulatan digital, dan restrukturisasi kapabilitas global.
Perusahaan-perusahaan China disebut mulai bergeser dari strategi ekspor produk menuju ekspor kapabilitas, platform, dan ekosistem AI.
Dalam laporan juga diungkap, AI kini tidak lagi sekadar proyek uji coba, tetapi mulai digunakan untuk produksi, manajemen rantai pasok, pengambilan keputusan operasional, hingga layanan purna jual.
Di sisi perangkat konsumen, IDC memperkirakan sekitar 900 juta perangkat pintar akan dikirim di China sepanjang 2026. Namun kenaikan biaya komponen seperti memori mulai memberi tekanan besar terhadap harga perangkat.
Namun demikian, IDC menilai faktor utama pembelian perangkat kini bukan lagi spesifikasi hardware, melainkan pengalaman AI dan kemampuan integrasi ekosistem digital.































