Sancoyo menilai inovasi menjadi faktor penting bagi perusahaan kosmetik untuk bertahan di tengah kondisi pasar saat ini. Perusahaan yang mampu menghadirkan produk inovatif dengan kualitas baik dan harga yang sesuai kebutuhan konsumen diyakini memiliki daya tahan lebih kuat.
“Perusahaan yang mampu menghadirkan produk dengan inovasi yang relevan, kualitas yang baik, dan harga yang sesuai kebutuhan konsumen akan memiliki daya tahan yang lebih baik di tengah kondisi pasar saat ini,” katanya.
Di sisi lain, Perkosmi melihat prospek industri kosmetik nasional masih cukup positif meskipun daya beli masyarakat tengah mengalami tekanan dan ketidakpastian global masih berlangsung. Industri beauty dan personal care dinilai memiliki karakteristik yang relatif lebih tahan dibanding beberapa sektor konsumsi lainnya.
Sancoyo menyebut kondisi tersebut juga didukung fenomena yang dikenal sebagai “lipstick effect”, yakni kecenderungan masyarakat tetap membeli produk kecantikan dan perawatan diri meskipun situasi ekonomi sedang menantang.
Namun demikian, pola konsumsi masyarakat disebut mulai berubah. Konsumen kini menjadi lebih selektif dalam membeli produk, termasuk lebih memperhatikan kandungan bahan, relevansi produk dengan kebutuhan, serta nilai yang ditawarkan.
“Untuk sisa tahun 2026, kami masih melihat adanya potensi pertumbuhan permintaan kosmetik di dalam negeri, meskipun kemungkinan pertumbuhannya akan lebih moderat dibanding periode booming sebelumnya,” ujar dia.
Ia menambahkan, segmen beauty masih menjadi pendorong utama industri kosmetik Indonesia dan dinilai tetap memiliki tingkat ketahanan yang cukup baik. Perkosmi berharap inovasi berkelanjutan dapat menjaga pertumbuhan industri kosmetik nasional ke depan.
(dec)






























