Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Jebol, Ekonom Sebut Peluang Kenaikan BI Rate Lebih Lebar

Redaksi
19 May 2026 09:40

Tamu undangan meninggalkan lokasi acara pertemuan tahunan Bank Indonesia 2025 di Jakarta, Jumar (28/11/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Tamu undangan meninggalkan lokasi acara pertemuan tahunan Bank Indonesia 2025 di Jakarta, Jumar (28/11/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kondisi rupiah yang terus mencatatkan penurunan dalam beberapa waktu terakhir, membuka peluang lebih lebar bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuannya pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada bulan ini.

“Dalam kondisi seperti ini, peluang kenaikan 25 basis poin menurut saya sudah cukup besar, sekitar 60 sampai 65%, terutama jika menjelang RDG tekanan rupiah masih bertahan di atas Rp17.500, harga minyak masih di atas US$100 per barel, dan arus modal asing belum stabil,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada Bloomberg Technoz, Selasa (19/5/2026).

Menurut Josua, kenaikan 25 basis poin perlu dipertimbangkan karena sinyal BI saat ini sudah lebih condong pada stabilitas dibanding dorongan pertumbuhan, hal ini sempat disampaikan oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo di hadapan komisi XI DPR RI pada Senin (19/5/2026).


Ia juga menyebut bahwa langkah kenaikan BI Rate ini juga lebih tepat apabila  disertai pesan yang jelas bahwa kenaikan tersebut bersifat pencegahan, terukur, dan ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah serta ekspektasi inflasi, bukan karena ekonomi domestik sedang melemah.

“Jika BI tetap menahan suku bunga, maka BI harus memberikan komunikasi yang sangat kuat dan memperlihatkan intervensi yang efektif agar pasar percaya bahwa rupiah masih terkendali,” katanya.