Perusahaan Tekstil Didera Kesulitan Produksi, PHK Mengintai
Sultan Ibnu Affan
19 May 2026 08:40

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) ikut mengeluhkan tren pelemahan rupiah belakangan ini turut membuat arus kas sejumlah perusahaan hulu tekstil dalam negeri ikut tertekan.
Ketua Umum APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan, pelemahan mata uang rupiah turut membuat baiknya harga bahan baku yang mayoritas berasal dari impor. Perusahaan, kata dia, juga telah banyak memutus kontrak pekerja.
"Untuk mengelola cashflow-nya agar tetap berputar, banyak perusahaan sudah menurunkan pembelian bahan baku dan produksinya. Belum pada tahap PHK namun sudah banyak pekerja kontrak yang diputus," ujanya saat dihubungi, Selasa (19/5/2026).
Redma mengatakan sekitar 85% produk petrokimia tekstil seperti Mono Ethylene Glycol yanag dibutuhkan di dalam negeri saat ini masih berasal dari impor. Namun, untuk PTA (Purified Terephthalic Acid) 95%-nya telah diproduksi di domestik.
Untuk menahan laju pelemahan rupiah, Redma pun meminta meminta pemerintah untuk cermat mengelola devisa negara, khususnya di sektor manufaktur yang dinilainya masih bergantung terhadap produk berbahan baku impor.




























