Logo Bloomberg Technoz

Industri Makanan dan Minuman Ketar-ketir Hadapi Pelemahan Rupiah

Sultan Ibnu Affan
19 May 2026 05:10

Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Gabungan Industri Makanan dan Minuman (GAPPMI) turut menyoroti tren pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini yang telah  menyentuh di atas Rp17.500/US$, sekaligus menjadi yang terlemah sepanjang sejarah.

Ketua Umum Gappmi Adhi Lukman mengatakan pelemahan nilai tukar tersebut membuat mayoritas bahan baku mamin di dalam negeri yang diperoleh dari hasil impor membengkak.

"Pelemahan rupiah semakin memberatkan industri mamin, terutama yang berorientasi untuk penjualan lokal karena beberapa bahan baku harus impor," ujar Adhi saat dihubungi, Senin (18/5/2026).


Adhi mengatakan, sejumlah bahan baku tersebut meliputi plastik yang sekitar 46% masih diimpor. Hal ini turut berpengaruh terhadap kemasan yang menjadi produk andalan industri tersebut.

Kemudian, kata dia, sejumlah bahan baku lain juga masih sangat bergantung pada impor seperti gandum 100%. Kemudian, kedelai juga masih diimpor dengan porsi mencapai sekitar 70%; gula industri 100%; jagung industri 70%, hingga susu dengan porsi 80%.