Logo Bloomberg Technoz

Ketika rupiah melemah, lanjut dia, biaya tebus material ini membengkak. Dampaknya adalah lonjakan biaya produksi bagi pabrik pupuk. Bagi petani, hal ini berarti risiko kelangkaan pupuk subsidi karena pagu anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terkikis nilai tukar atau meroketnya harga pupuk non-subsidi di tingkat pengecer.

"Biaya input pertanian yang mahal ini langsung memotong margin keuntungan petani kecil," tegas Rahma.

Kemudian, BBM dan biaya logistik perdesaan juga semakin mahal. Ini akan meningkatkan beban subsidi energi. Dia menjelaskan, Indonesia adalah importir minyak mentah dan BBM jadi. Setiap pelemahan rupiah otomatis menaikkan biaya pokok penyediaan BBM oleh Pertamina.

Jika pemerintah menahan harga BBM (Solar dan Pertalite), anggaran subsidi dan kompensasi energi di APBN akan membengkak, mengurangi ruang belanja pembangunan desa.

Namun, sambungnya, jika jatah subsidi terlampaui atau ada penyesuaian harga di tingkat hilir, biaya transportasi logistik dari kota ke desa langsung naik. Harga barang-barang kebutuhan pokok yang masuk ke warung-warung perdesaan pun ikut terkerek naik.

Indonesia masih mengimpor komoditas pangan dalam jumlah besar, seperti gandum yang merupakan bahan baku mi instan dan roti, kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe, hingga sebagian gula rafinasi, dan daging.

Saat dolar menguat, harga tebus komoditas pangan impor ini naik drastis di tingkat grosir. Masyarakat yang porsi pengeluaran bulanannya didominasi oleh makanan hingga di kisaran 50%-60% dari total pendapatan, adalah kelompok yang paling rentan terpukul oleh inflasi impor. Daya beli riil mereka akan langsung tergerus.

"Pelemahan nilai tukar yang tidak diantisipasi dengan baik bertindak sebagai negative supply shock (guncangan penawaran negatif) di tingkat mikro," ujarnya.

Menurut dia, hal yang terjadi adalah menaikkan biaya produksi di sektor pertanian dan logistik, yang pada akhirnya akan menekan daya beli masyarakat. Menaikkan tingkat harga barang-barang akan menurunkan kuantitas kesejahteraan riil masyarakat.

"Masyarakat tidak terisolasi dari dolar, mereka, terutama yang di desa justru berada di ujung akhir mata rantai distribusinya," tutur dia.

Berdasarkan tim riset Bloomberg Technoz, sejumlah sentimen menekan rupiah pada perdagangan pagi ini setelah libur panjang pekan lalu. Pertama, dari sisi eksternal pergerakan harga minyak terus melambung ke US$111,24 per barel kembali menekan mata uang kawasan. Kenaikan harga minyak terjadi lantaran Presiden AS Donald Trump kembali menekan Iran untuk mencapai kesepakatan. 

Hampir semua mata uang kawasan di pasar yang sudah buka melemah dengan rupiah yang memimpin di zona merah. 

Kedua, kondisi data perekonomian domestik yang dipaparkan otoritas menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar. Capaian pertumbuhan di level 5,61% belum diikuti dengan pergerakan positif sejumlah data acuan seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan data penjualan ritel (IPR). 

Pasar juga mulai melihat adanya potensi tekanan ganda terhadap APBN dalam bentuk subsidi energi yang diproyeksikan membengkak, sementara penerimaan negara belum cukup kuat untuk menopang ekspansi belanja yang agresif. 

Ketidakpastian tersebut pada akhirnya tercermin ke dalam pergerakan pasar keuangan domestik. Investor terlihat mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia, baik di pasar obligasi maupun nilai tukar, seiring adanya kekhawatiran tersebut. 

(lav)

No more pages