Saham–saham energi, saham teknologi, dan saham kesehatan menjadi pemberat IHSG dengan melemah mencapai 0,61%, 0,25% dan 0,07%.
Adapun saham energi yang terbenam di zona merah adalah, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) amblas 10,7%, saham PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP) jatuh 3,53%. Saham PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk (BESS) drop 3,29%.
Saham–saham LQ45 juga terbenam dan bergerak pada teritori negatif i.a, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) drop 7,53%, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melemah 2,64%. Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) terdepresiasi 2,22%.
Senada, saham unggulan berikut turut menjadi pemberat IHSG, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terpeleset 2,17%, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) kehilangan 2,15%. Saham PT Hermina Tbk (HEAL) melemah 2,09%
Pelemahan sejumlah saham didorong oleh sentimen pengumuman MSCI, melansir laporan terbaru– MSCI yang akan menghapus daftar saham—saham yang masuk dalam saham terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration/HSC di indeksnya.
Terlebih lagi investor mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia/RDG BI yang diprediksi bakal mempertahankan BI Rate tetap di level 4,76%. Selain itu juga akan dirilis data pertumbuhan kredit bulan Maret 2026 yang diestimasikan melambat menjadi 7,5% dari 9,37% pada Februari 2026.
Mengacu konsensus Bloomberg, sebanyak 39 ekonom yang disurvei kompak mengestimasikan BI Rate tidak ke mana–mana, dengan vonis hold.
Proyeksi yang cenderung kompak ini mengindikasikan ruang pelonggaran bagi BI tak tersedia. Sebab, risiko stagflasi mengintai di depan. Stagflasi merupakan kondisi di mana inflasi terjadi kala perekonomian stagnan, artinya kenaikan harga terjadi di saat pertumbuhan ekonomi tak cukup kuat.
Ditambah performa rupiah yang lesu akibat berbagai tekanan yang mengintai. Dari sisi fiskal yang disebabkan oleh rencana belanja yang ekspansif membuat lembaga pemeringkat menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia.
Kemudian, pecahnya perang Timur Tengah menambah tekanan eksternal bagi Indonesia dengan lonjakan harga minyak yang berpotensi memperlebar defisit.
Dari global, tensi geopolitik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran masih memanas, seiring pengumuman terbaru Presiden AS, Donald Trump, menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran hingga perundingan damai, namun AS akan terus memblokade pelabuhan–pelabuhan yang dimiliki Iran.
Iran menanggapi pernyataan AS tidak berarti apa apa atau gencatan senjata sebagai klaim sepihak saja. Selain itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, telah membatalkan kunjungan ke Pakistan untuk memimpin pembicaraan dengan Iran, melansir Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya.
(fad)






























