Logo Bloomberg Technoz

Smelter Kesulitan Sulfur Efek Perang Iran, BK Nikel Diminta Tunda

Azura Yumna Ramadani Purnama
07 April 2026 09:50

Kobalt sulfat dipamerkan di Stan Sungeel Hitech Co. yang dipamerkan di pameran InterBattery di Seoul, Korea Selatan./Bloomberg-SeongJoon Cho
Kobalt sulfat dipamerkan di Stan Sungeel Hitech Co. yang dipamerkan di pameran InterBattery di Seoul, Korea Selatan./Bloomberg-SeongJoon Cho

Bloomberg Technoz, Jakarta Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) meminta pemerintah untuk menunda rencana pengenaan bea keluar (BK) terhadap ekspor produk olahan nikel dan mengkaji ulang revisi harga patokan mineral (HMA) komoditas tersebut.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mengungkapkan gejolak di Timur Tengah memberikan dampak langsung terhadap struktur biaya produksi industri smelter nikel.

Saat ini, Arif menyatakan, kenaikan harga energi membuat biaya operasional industri pengolahan dan pemurnian nikel meningkat.


Selain itu, Arif mengatakan industri smelter nikel hidrometalurgi di Indonesia bergantung terhadap sulfur yang diimpor dari Timur Tengah.

Saat ini, kata dia,  komponen biaya sulfur untuk operasional smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) telah naik menjadi 30%—35%, dari sebelumnya sekitar 25%.