Logo Bloomberg Technoz

Sulfur dari Timteng Tertahan, Smelter Nikel HPAL Rawan Tertekan

Azura Yumna Ramadani Purnama
09 March 2026 10:40

Foto close-up bubuk sulfur. (Fotografer: Angel Garcia/Bloomberg)
Foto close-up bubuk sulfur. (Fotografer: Angel Garcia/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia berpotensi mengalami tekanan karena pasokan sulfur dari Timur Tengah terahan gegara penutupan jalur perdagangan global di Selat Hormuz.

Dalam riset Shanghai Metal Market (SMM), lebih dari 75% impor sulfur indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. SMM memprediksi penutupan Selat Hormuz memengaruhi biaya produksi dan stabilitas pasokan mixed hydroxide precipitate (MHP) Indonesia.

Sulfur sendiri digunakan sebagai bahan baku dalam produksi produk antara nikel seperti MHP, melalui proses high pressure acid leach (HPAL) atau pelindian asam bertekanan tinggi. Memproduksi 1 ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur. Adapun, MHP merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.


“Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama bagi proyek-proyek MHP Indonesia akan benar-benar terputus,” tulis SMM dalam risetnya, dikutip Senin (9/3/2026).

Blok Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di fasilitas pengolahan nikel Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara./Bloomberg-Dimas Ardian

SMM memperkirakan per Januari 2026 bahwa sulfur menyumbang 41% dari biaya produksi MHP. Dengan begitu, jika harga sulfur meningkat gegara gangguan pasokan, biaya produksi bisa meningkat dan menekan margin keuntungan smelter nikel HPAL.