Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: BI Rate Tinggi Harus Diimbangi Makroprudensial Longgar

Redaksi
23 May 2026 19:30

Tamu undangan meninggalkan lokasi acara pertemuan tahunan Bank Indonesia 2025 di Jakarta, Jumar (28/11/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Tamu undangan meninggalkan lokasi acara pertemuan tahunan Bank Indonesia 2025 di Jakarta, Jumar (28/11/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan BI Rate menjadi 5,25 dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pekan ini. Kenaikan tersebut dimaksud sebagai salah satu upaya untuk menstabilisasi nilai tukar.

Namun Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede beranggapan bahwa kenaikan BI Rate tak bisa berdiri sendiri. Harus dilakukan upaya lainnya supaya dampaknya tak terlalu menekan pertumbuhan, termasuk pertumbuhan kredit.

“Agar dampaknya tidak terlalu menekan kredit, kebijakan makroprudensial harus tetap longgar dan diarahkan ke sektor produktif, terutama pangan, energi, manufaktur, ekspor, perumahan terjangkau, dan UMKM yang masuk rantai pasok,” kata Josua.


Josua juga menyebut bahwa pemerintah perlu mempercepat belanja produktif, menjaga harga pangan dan energi, serta memperkuat kepastian fiskal agar pasar tidak hanya melihat BI bekerja sendirian

Tak cuma pemerintah, Ia juga menyebut bahwa sektor perbankan juga harus bisa menjaga  keseimbangan antara kehati-hatian dan dukungan pembiayaan.