Logo Bloomberg Technoz

Berikut daftar komoditas bahan baku penting dunia yang paling terdampak penutupan Selat Hormuz:

Minyak Bumi

Minyak mentah dan produk turunannya menjadi komoditas yang paling berdampak dari perang di  Teluk Persia. Artinya, setiap gangguan sekecil apa pun langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan.

Tidak mengherankan jika harga minyak menjadi indikator paling sensitif terhadap konflik ini.

Ketika risiko meningkat, pasar segera memasukkan “premi geopolitik” ke dalam harga. Apalagi, lanjut laporan tersebut, tidak ada jalur perdagangan alternatif dengan kapastias yang setara dengan selat tersebut.

Hambatan itu juga telah membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di banyak negara ikut melonjak signifikan, hingga menimbulkan kekhawatiran kelangkaan pasokan.

"Besarnya dampak harga yang terjadi, serta konsekuensinya terhadap inflasi dan kondisi ekonomi yang lebih luas," papar CRS.

Pergerakan harga minyak WTI hingga 7 April 2026./dok. Bloomberg

Gas Alam

Sebenarnya, gas alam lebih merupakan komoditas untuk pasar lokal atau regional dibandingkan dengan minyak, dengan 72% gas alam dikonsumsi di negara tempat gas tersebut diproduksi.

Namun, harga gas alam telah bergerak menuju menjadi komoditas yang lebih global seperti minyak.

Saat ini, perdagangan gas alam hampir terbagi merata antara ekspor melalui pipa (52%) dan dalam bentuk gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Setidaknya, sekitar 25% ekspor LNG dunia harus melewati Selat tersebut, terutama dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Sebagian besar ekspor Qatar ditujukan ke pasar Asia, termasuk China (24%).

"Sejak 2016, masuknya Amerika Serikat sebagai eksportir LNG dari wilayah 48 negara bagian daratan telah mengubah cara LNG dibeli, dijual, dan ditetapkan harganya di seluruh dunia," tulis CRS.

Perang tersebut juga belakangan telah membuat perusahaan negara eksportir dan produsen LNG terbesar dunia, QatarEnergy, mendeklarasikan keadaan kahar (force majeure). Perusahaan itu setidaknya memasok sekitar 20% ekspor LNG ke berbagai negara.

Gangguan produksi LNG dunia./dok. Bloomberg

Helium

Ketika bahan baku utama seperti minyak dan gas terdampak, tidak menutup kemungkinan juga produk turunannya ikut terdampak. Seperti helium.

Qatar, negara yang menyumbang 30% kapasitas produksi helium global, kini juga tengah dibayangi hambatan pasokan.

Di antara berbagai kegunaannya, helium digunakan dalam produksi semikonduktor.

Helium dikirim dalam jumlah besar menggunakan kapal kontainer dalam wadah yang dirancang khusus dengan isolasi dan tekanan tertentu untuk menjaga helium tetap dalam bentuk cair pada suhu minus 452 derajat Fahrenheit, hingga selama 45 hari.

Pupuk

Selat Hormuz juga berdampak ke pasokan dan produksi pupuk global, khususnya pupuk kimia yang mengandung nitrogen dan fosfor.

"Gangguan terhadap pasokan pupuk, dan kenaikan harga pupuk yang menyertainya, dapat mendorong petani untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia, yang berpotensi menurunkan produksi pangan global," lanjut laporan itu.

Urea sendiri juga diproduksi menggunakan gas alam dan gas amonia. Urea dijual dalam bentuk padat, berbutir, dan dikirim menggunakan kapal curah kering.

Laporan Schroders mengatakan bahwa setidaknya 33% perdagangan pupuk urea global melewati jalur Hormuz.

Negara-negara Teluk Persia merupakan salah satu pemasok utama pupuk urea dunia. Dilaporkan bahwa Iran, Arab Saudi, Qatar, UEA, dan Bahrain secara bersama-sama menyumbang lebih dari sepertiga pasokan urea global.

Pangsa impor pupuk melalui jalur laut dari wilayah Teluk. (Bloomberg)

Aluminium

Perang Iran juga sudah membuat salah satu komoditas logam paling melimpah di bumi juga tersendat, diikuti dengan kenaikan harga yang cukup signifikan sejak perang berlangsung.

Sejak pecahnya konflik Iran pada 28 Februari 2026, kontrak berjangka aluminium tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak hingga 10% pada 12 Maret. Namun, kenaikan tersebut kemudian menyusut menjadi sekitar 8%.

Lagi-lagi, gangguan pasokan dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dan komoditas dunia, yang berdampak langsung terhadap distribusi aluminium.

Bahrain, yang menjadi tempat perusahaan produsen aluminium terbesar di dunia (Alba), turut memangkas produksi sekitar 19% dari total kapasitas tahun, berdasarkan laporan lembaga riset CBU Group.

Sekitar sepersepuluh produksi aluminium global terkonsentrasi di Teluk Persia, dengan ekspor terhambat oleh penutupan Selat Hormuz.

Selain itu, drone dan rudal Iran telah menyerang pabrik-pabrik yang dioperasikan oleh Aluminium Bahrain BSC dan Emirates Global Aluminium PJSC. Inilah yang membuat harga aluminium fluktuatif dan khawatir terhambat pasokan.

Meskipun kedua perusahaan belum mengklarifikasi kerusakan pasti pada fasilitas mereka, ada spekulasi tentang dampak dan konsekuensinya terhadap keseimbangan pasar.

Pabrik Al-Taweelah milik EGA, dengan kapasitas 1,6 juta ton per tahun, dapat dihapus dari perhitungan untuk jangka panjang, tulis analis Bernard Dadhah dari Natixis SA dalam sebuah catatan.

Hal itu dapat mengubah pasar dari surplus pasokan 200.000 ton menjadi defisit sekitar 1,3 juta ton tahun depan, tulisnya, memperingatkan akan kekurangan yang lebih parah jika pabrik Bahrain juga mengalami kerusakan jangka panjang.

Pergerakan harga aluminium di LME./dok. Bloomberg

LPG

Terhambatnya pasokan gas, turut membuat pasokan gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) terhambat serta produksinya berkurang. LPG terdampak dari penutupan Selat, yang juga mengambil porsi sekitar 20% perdagangan global.

Salah satu negara Asia, India, belakangan juga telah merasakan dampak tersebut; yakni kelangkaan energi untuk kebutuhan rumah tangga masyarakatnya.

Negara tersebut mengimpor sekitar dua pertiga dari pasokannya, dan 90% di antaranya berasal dari Timur Tengah, sebagian besar melalui Selat Hormuz yang secara efektif diblokir sejak awal perang.

Belakangan, India juga telah membeli LPG dari Iran untuk pertama kalinya dalam hampir delapan tahun, menurut sumber yang mengetahui masalah ini.

Antrean LPG di India./dok. Bloomberg

Langkah itu dipicu karena negara tersebut berupaya keras untuk mencegah makin memburuknya kekurangan bahan bakar masak vital yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.

Perusahaan kilang tersebut akan berbagi pengiriman dengan perusahaan milik negara lainnya, Bharat Petroleum Corp Ltd. dan Hindustan Petroleum Corp Ltd., kata sumber tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sensitivitas perdagangan tersebut.

Indian Oil terakhir kali membeli LPG dari Iran pada Juni 2018, menurut perusahaan intelijen data Kpler, yang mengatakan bahwa kargo saat ini sekitar 43.000 ton butana dan propana.

Kelangkaan tersebut menyebabkan sebagian warga India terpaksa memasak dengan kayu bakar, dan menyebabkan perkelahian dalam antrean untuk mendapatkan tabung LPG.

Sulfur

Sekitar 50% pasokan sulfur dunia atau sekitar 20 juta ton per tahun berasal dari wilayah Teluk Persia di Timur Tengah.

Negara-negara eksportir utama meliputi Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, dan Iran. Sulfur yang berasal dari negara tersebut harus melewati Selat Hormuz untuk mencapai pasar global.

Dalam riset Shanghai Metal Market (SMM), lebih dari 75% impor sulfur indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. SMM memprediksi penutupan Selat Hormuz memengaruhi biaya produksi dan stabilitas pasokan mixed hydroxide precipitate (MHP).

Lebih lanjut, SMM memprediksi negara seperti Indonesia bakal bersaing dengan pembeli global untuk pasokan sulfur dari negara-negara di luar Timur Tengah yang pasokannya cukup terbatas.

Selain itu, kenaikan premi asuransi dan meningkatnya biaya pengiriman akibat pengalihan rute akan makin mendongkrak landed cost atau total biaya logistik.

Tumpukan sulfur terlihat di sebuah pelabuhan di British Columbia, Kanada. (Fotografer: Darryl Dyck/Bloomberg)

Lebih lanjut, lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Sulfur tersebut banyak dimanfaatkan untuk industri pengolahan nikel utamanya smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).

Pada 2025, Arab Saudi menjadi pemasok terbesar sekitar 1,76 juta ton, Qatar sebanyak 967.000 ton, UEA 918.000 ton, Kanada 515.000 ton, Kuwait 366.000 ton, Malaysia 146.000 ton, dan Singapura sebesar 115.000 ton.

“Lebih dari 75% impor belerang Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama untuk proyek MHP Indonesia akan terputus,” tulis SMM.

Sulfur sendiri digunakan sebagai bahan baku dalam produksi produk antara nikel seperti MHP, melalui proses pelindian asam bertekanan tinggi. Memproduksi 1 ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur. Adapun, MHP merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.

(wdh)

No more pages