Logo Bloomberg Technoz

Stock Idea Festival 2026

Menakar Taji Perempuan di Pasar Modal RI

Nyoman Ary Wahyudi
23 May 2026 17:30

Vonny Ramali Saat Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Vonny Ramali Saat Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar modal Indonesia tengah menyaksikan pergeseran demografis yang subtil namun masif. Di balik volatilitas Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG), keterlibatan investor perempuan bukan lagi sekadar pelengkap statistik, melainkan motor baru likuiditas domestik. Kiprah investor perempuan mendapat perhatian khusus pada sesi diskusi bertajuk "Woman in Investing: Building Portfolios with Distinct Trading Style” dalam ajang Stock Idea Festival yang diinisiasi oleh Sucor Sekuritas.

Bagi investor ritel baru, menavigasi pasar saham seringkali memicu pertanyaan dasar: apakah instrumen ini bisa dijadikan mata pencaharian penuh waktu (full-time trader)?
Investor Profesional, Jessica Wijaya menegaskan bahwa untuk mengetahui kecocokan di pasar saham, investor harus berani terjun langsung dan merasakan dinamika pasar secara riil. "Mesti menceburkan diri langsung untuk tahu mana gaya yang cocok," ujarnya.

Namun, pasar saham tidak ramah bagi mereka yang tanpa persiapan. Pendiri Wisdom and Invest, Vonny Ramali, menyoroti pentingnya sistem dan kejujuran psikologis dalam bertransaksi agar modal tidak habis menguap akibat keputusan impulsif.


Menurut Vonny, banyak pelaku pasar yang sebenarnya keliru mengidentifikasi motivasi mereka sendiri saat masuk ke pasar saham.
"Banyak yang sebenarnya bukan mencari cuan utama, melainkan hanya mencari adrenalin atau sekadar mengisi waktu luang. Di sisi lain, ada juga yang memang menikmati proses trading sebagai bentuk aktualisasi diri," kata Vonny. Oleh karena itu, Wisdom and Invest berfokus membangun sistem agar investor mampu belajar secara mandiri dan disiplin.

Tantangan Domestik dan Pentingnya Support System

Jessica Wijaya Saat Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kendati pertumbuhan basis investor perempuan melaju positif secara statistik, jalan menuju inklusi finansial yang ideal masih terganjal tantangan struktural dan kultural. Multiperan perempuan sebagai istri dan ibu sering kali menyita energi eksklusif, menyisakan sedikit ruang untuk memantau pergerakan grafik saham yang fluktuatif. "Perempuan dibebani tugas mengurus rumah tangga dan anak, sehingga tantangan untuk fokus di investasi atau trading saham menjadi lebih sulit. Kita juga masih kekurangan role model perempuan di industri ini," ungkap Jessica Wijaya.