Stock Idea Festival 2026
Kreator ke Trader: Berburu Cuan dan Mengelola Euforia Pasar
Nyoman Ary Wahyudi
23 May 2026 19:10

Bloomberg Technoz, Jakarta - Lanskap pasar modal Indonesia kini kedatangan gelombang partisipan baru yang tidak biasa: para konten kreator papan atas yang beralih peran menjadi pelaku pasar. Di balik layar gawai yang biasa memproduksi konten hiburan, para figur digital ini mulai menavigasi portofolio mereka di tengah ketatnya persaingan pasar saham domestik.
Fenomena ini dikupas tuntas dalam ajang Stock Idea Festival yang digelar oleh Sucor Sekuritas, melalui sesi diskusi panel bertajuk "From Creator to Trader: Building Credibility in the Market." Sesi ini menghadirkan CEO Saham Rakyat Kevin Hendrawan, dan kreator konten kawakan Jess No Limit.
Bagi para kreator ini, titik akhir dari seluruh aktivitas produksi konten di media sosial bermuara pada satu tujuan finansial: investasi jangka panjang. "Saya memulai sebagai trader pada 2008, lalu menjadi YouTuber di 2015 untuk mencari modal agar bisa masuk kembali ke pasar. End game saya selalu berada di dunia investasi," ungkap Kevin Hendrawan.
Menjinakkan Likuiditas Ritel dengan Kecerdasan Buatan
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi investor ritel di Indonesia adalah kedalaman pasar dan masalah likuiditas. Kevin menyoroti kekeliruan umum investor pemula yang menghabiskan waktu memantau pergerakan saham dari pagi hingga sore, namun mendapatkan hasil yang tidak sebanding akibat keterbatasan modal.
Untuk menyiasati keterbatasan struktural tersebut, pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) kini menjadi instrumen mitigasi risiko yang krusial.
"Akhirnya saya memilih fokus hanya pada beberapa saham saja dengan bantuan tools AI, terutama berfokus pada konstituen indeks IDX30," jelas Kevin.
Proses membangun algoritma AI yang andal pun memerlukan disiplin tinggi melalui simulasi harian. "Setiap hari kami melakukan simulasi trading hingga mencapai hasil yang optimal. Error diperbaiki, data analitik AI terus diperiksa hingga kami menemukan model matematika yang pas sebelum akhirnya dikunci (lock)," ujarnya.
Membaca Hype Media Sosial dan Bahaya FOMO


























