Logo Bloomberg Technoz

Pada hari Minggu, Iran terus melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangga. Sebagai balasan, Israel menyerang depot bahan bakar di Teheran dan mengancam jaringan listrik Republik Islam tersebut. Donald Trump memperingatkan bahwa AS akan mempertimbangkan untuk menyerang wilayah-wilayah yang sebelumnya bukan merupakan target utama. Serangan akan berlanjut "sampai mereka menyerah atau benar-benar runtuh!" tulis Trump di media sosial.

Di tengah situasi perang yang memasuki hari kesembilan, Iran resmi menunjuk putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Sementara itu, Uni Emirat Arab dan Kuwait mulai mengurangi produksi minyak mereka karena lumpuhnya Selat Hormuz mulai mengguncang pasar energi dan memengaruhi pasokan global.

Penutupan efektif jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas itu menyebabkan ekspor dari kawasan penghasil minyak terbesar di dunia tersendat.

Fokus penting lainnya adalah penguatan dolar AS. Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,5% pada Senin.

"Dolar adalah penerima manfaat terbesar mengingat statusnya sebagai safe haven dan posisi AS sebagai eksportir energi bersih," kata Carol Kong, pakar strategi di Commonwealth Bank of Australia. “Seberapa jauh dolar akan terus menguat sangat bergantung pada kedalaman dan lamanya konflik, yang saat ini masih sangat tidak pasti.”

Sementara itu di AS pada Jumat lalu, data nonfarm payrolls menunjukkan jumlah pekerjaan turun 92.000 pada bulan lalu, salah satu penurunan terbesar sejak pandemi. Meski sebagian penurunan sudah diperkirakan — seperti dampak sementara dari aksi mogok pekerja sektor kesehatan serta kemungkinan pengaruh cuaca buruk — berbagai sektor industri tercatat memangkas tenaga kerja. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%.

Obligasi pemerintah AS memperpanjang pelemahannya pada Senin, dengan imbal hasil obligasi acuan 10 tahun naik ke level 4,18%.

Indeks Volatilitas Cboe, yang dikenal sebagai VIX dan mengukur ekspektasi pergerakan harga pada indeks S&P 500, melonjak mendekati level 30 pada Jumat. Kenaikan ini mendorong harga spot melampaui kontrak berjangka tiga bulannya dalam inversi terbesar dalam hampir satu tahun.

Lonjakan harga minyak dapat memicu koreksi pasar saham, meski belum tentu langsung mendorong pasar ke fase bearish, kata Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research. Namun, jika investor mulai memperkirakan terjadinya stagflasi, maka pasar bearish menjadi lebih mungkin terjadi.

“Reaksi terburuk di pasar saham kemungkinan masih akan datang,” ujar Michael O’Rourke, Chief Market Strategist di JonesTrading. “Saya memperkirakan sentimen risk-off akan terus berlanjut sampai muncul kabar positif yang benar-benar nyata.”

Beberapa pergerakan utama di pasar:

Saham

  • S&P 500 futures turun 1,6% per pukul 09.07 waktu Tokyo
  • Hang Seng futures turun 1%
  • Indeks Topix Jepang turun 4,3%
  • S&P/ASX 200 Australia turun 3,3%
  • Euro Stoxx 50 futures turun 1,1%

Mata uang

  • Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,6%
  • Euro turun 0,8% ke US$1,1523
  • Yen Jepang turun 0,4% ke 158,47 per dolar
  • Yuan offshore turun 0,3% ke 6,9258 per dolar
  • Dolar Australia turun 0,9% ke US$0,6968

Kripto

  • Bitcoin turun 1,4% ke US$66.249,43
  • Ether turun 0,7% ke US$1.945,5

Obligasi

  • Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik lima basis poin menjadi 4,19%
  • Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun naik lima basis poin menjadi 2,210%
  • Imbal hasil obligasi Australia tenor 10 tahun naik 13 basis poin menjadi 4,97%

Komoditas

  • Minyak mentah West Texas Intermediate naik 18% menjadi US$107,15 per barel
  • Harga emas spot turun 2,2% menjadi US$5.056,77 per ons

Artikel ini disusun dengan bantuan Bloomberg Automation.

(bbn)

No more pages