Logo Bloomberg Technoz

‎Fenomena tersebut dinilai wajar di tengah ketidakpastian ekonomi karena masyarakat cenderung meningkatkan tabungan dan menahan konsumsi maupun pembelian aset ketimbang membeli rumah.

‎"Ketika kondisinya semakin tidak pasti, maka apa yang akan kita lakukan sebagai manusia adalah menyiapkan payung. Jangan-jangan nanti susah. Jangan-jangan nanti saya enggak bisa makan. Ya sudah, kalau gitu saya akan menunda konsumsi saya," jelas Martin. 

Menurutnya, ‎kondisi tersebut berdampak pada perlambatan ekspansi kredit, termasuk kredit sektor perumahan. 

‎"Penyaluran kredit dia akan terhambat. Tapi pada saat yang sama, banyak orang yang berlomba-lomba untuk menaruh uangnya. Masuk akal nggak? Masuk akal," tuturnya. 

Dalam paparannya, Martin menyebut pertumbuhan kredit dan DPK periode 2019-2025 yang bergerak siklikal. Pada 2020-2021, pertumbuhan kredit terkontraksi tajam hingga negatif akibat pandemi, sementara DPK justru meningkat, mencerminkan preferensi likuiditas dan lemahnya permintaan kredit. 

Memasuki 2022-2023, kredit pulih signifikan seiring normalisasi ekonomi, bahkan sempat melampaui pertumbuhan DPK, yang mengindikasikan pengetatan likuiditas relatif. Pada 2024 ditandai moderasi kredit, sementara DPK sempat melemah sebelum kembali menguat di akhir periode.

Menuju akhir 2025, terlihat rebound DPK yang cukup kuat dibanding kredit. Pola ini menunjukkan potensi mismatch yang dapat memengaruhi LDR, strategi pendanaan bank, serta transmisi likuiditas ke sektor riil, termasuk pembiayaan perumahan. 

Sekadar catatan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh 9,96% secara tahunan (yoy) menjadi Rp8.597 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,63% yoy.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 22,38% yoy, diikuti kredit konsumsi 6,58% yoy, dan kredit modal kerja 4,13% yoy. Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi tumbuh 16,07% yoy. 

Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,48% yoy menjadi Rp10.076 triliun, sedikit melambat dibandingkan Desember 2025 yang tumbuh 13,83% yoy. Pertumbuhan DPK tersebut ditopang oleh giro yang naik 19,75% yoy, deposito 12,61% yoy, serta tabungan 8,27% yoy.

Belum Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi

Martin menilai sektor perumahan saat ini belum menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, meski sepanjang 2025 menunjukkan tren yang stabil. Berdasarkan data terbaru yang ia miliki, sektor real estate mencatat pertumbuhan yang konsisten meningkat. 

“Sektor real estate sayangnya masih belum menjadi sektor primadona dalam mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Martin 

Berdasarkan data SMF, pada kuartal II-2025, sektor ini tumbuh 3,71% secara yoy. Angka tersebut naik menjadi 3,96% pada kuartal III-2025 dan kembali menguat tipis menjadi 3,97%pada kuartal IV-2025.

Menurut Martin, pola tersebut mencerminkan adanya perbaikan permintaan properti secara bertahap. Namun, laju pertumbuhannya masih berada di level moderat dan belum mampu menjadi pendorong utama ekonomi. 

Dibandingkan sektor lain, kinerja real estate masih tergolong menengah. Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian, pengadaan listrik dan gas, pengadaan air, serta jasa keuangan. 

Meski demikian, sektor ini masih tertinggal dari sejumlah sektor dengan pertumbuhan tinggi seperti transportasi dan pergudangan, akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi, serta kelompok jasa lainnya yang mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 8% - 11%

Martin juga menekankan pertumbuhan real estate masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal, di banyak negara maju, sektor properti justru menjadi salah satu penopang utama ekspansi ekonomi. 

“Nah, ini menjadi penting. Kenapa? Karena negara-negara yang lebih maju, itu menunjukkan bahwa sektor real estate-nya itu adalah sektor yang besar, sektor yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi. Hari ini belum kejadian. Kita harus berani bilang, kita harus mengatakan bahwa ini belum kejadian,” jelas Martin. 

(ell)

No more pages