Lalu lintas yang melintasi jalur air tersebut menurun tajam setelah serangan regional yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026), meskipun beberapa kapal tanker masih berlayar.
Berikut adalah titik-titik tekanan yang perlu diperhatikan dalam industri minyak seiring perkembangan peristiwa:
Bahaya Regional
Iran telah lama mengklaim bahwa penutupan penuh Selat Hormuz berada dalam kekuasaannya, tetapi itu adalah langkah ekstrem yang belum pernah dilakukan sebelumnya — dan skenario mimpi buruk bagi pasar global.
Pada Sabtu, kapal-kapal melaporkan mendengar siaran radio yang diduga berasal dari Angkatan Laut Iran, yang mengumumkan bahwa transit melalui jalur air Hormuz dilarang.
Belum ada pengumuman resmi dari Teheran tentang status selat tersebut, meskipun jauh lebih sedikit kapal yang berlayar melaluinya sekarang.
Selat Hormuz merupakan titik rawan bagi sebagian besar ekspor minyak mentah Teluk Persia, serta bahan bakar olahan seperti solar atau diesel dan bahan bakar jet atau jetfuel.
Qatar, salah satu eksportir gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) terbesar di dunia, juga bergantung pada selat ini, dan pada Sabtu meminta pemilik kapal untuk menghentikan navigasi.
Rute Keluar dari Teluk
Anggota OPEC, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), memiliki kemampuan untuk mengalihkan rute minyak mereka melalui jalur pipa yang menghindari Hormuz.
Arab Saudi dapat mengalihkan sebagian pengiriman dengan menggunakan jalur pipa sepanjang 746 mil yang membentang di seluruh kerajaan menuju terminal di Laut Merah, tempat minyak dapat dimuat ke kapal untuk transportasi selanjutnya.
Jalur Pipa Timur—Barat mampu mengangkut 5 juta barel minyak mentah per hari.
UEA dapat menghindari Selat Hormuz dalam skala yang lebih kecil, dengan menggunakan jalur pipa yang membentang dari ladang minyaknya ke pelabuhan di sepanjang Teluk Oman.
Jalur pipa Habshan—Fujairah memiliki kapasitas untuk mengangkut 1,5 juta barel minyak mentah per hari.
Irak, produsen terbesar kedua OPEC, memiliki jalur pipa yang membentang melalui Turki ke pantai Mediterania.
Namun, jalur pipa ini hanya dapat mengangkut minyak yang dipompa dari ladang di utara negara itu, sehingga hampir semua ekspor minyak mentahnya dikirim melalui laut dari pelabuhan Basra dan melewati Selat Hormuz.
Kuwait, Qatar, dan Bahrain tidak punya pilihan selain mengirimkan minyak mereka melalui jalur air tersebut.
Bahkan dengan jalur pipa alternatif ini, penutupan selat tersebut tetap akan menyebabkan gangguan besar pada ekspor dan mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Arab Saudi dan beberapa produsen lainnya baru-baru ini mempercepat ekspor minyak karena pengerahan aset militer Amerika ke Timur Tengah memicu ketegangan di kawasan tersebut.
Pengiriman minyak mentah Saudi rata-rata sekitar 7,3 juta bph dalam 24 hari pertama Februari, yang tertinggi dalam hampir tiga tahun.
Gabungan aliran dari Irak, Kuwait, dan UEA diperkirakan akan meningkat hampir 600.000 bph dari periode yang sama pada bulan Januari, menurut data dari Vortexa Ltd.
Pada hari Minggu, anggota utama OPEC+ — yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia — juga sepakat untuk melanjutkan peningkatan produksi bulan depan, menambahkan 206.000 bph.
Target Serangan
Pada Minggu (1/3/2026) pagi, ada banyak tanda bahwa perang semakin meluas. Bangunan-bangunan di Tel Aviv dihantam; sistem pertahanan rudal mencegat proyektil Iran yang datang di UEA, Qatar, dan Bahrain; dan ada laporan serangan terhadap bandara utama Dubai, pusat penerbangan tersibuk di dunia.
Minggu juga membawa serangan maritim pertama sejak perang pecah. Sebuah kapal tanker minyak kecil, yang tampaknya dikenai sanksi oleh AS karena membantu Iran mengekspor bahan bakar, menjadi sasaran di lepas pantai utara Oman.
Awak kapal yang berjumlah 20 orang dievakuasi dan empat orang terluka, kata Oman. Belum jelas siapa yang menargetkan kapal tersebut, yang bernama Skylight.
Pada masa lalu, Teheran telah menyerang beberapa aset energi negara tetangganya. Pada 2019, serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal terhadap fasilitas pengolahan minyak Abqaiq di Arab Saudi menghentikan produksi yang setara dengan sekitar 7% dari pasokan minyak mentah global.
AS saat itu mengatakan Iran bertanggung jawab.
Sejauh menyangkut Hormuz, banyak pengamat mengatakan tidak mungkin Iran dapat menutup jalur air tersebut untuk waktu yang lama, sehingga tindakan yang berdampak lebih rendah seperti pelecehan terhadap pelayaran lebih mungkin terjadi.
Selama perang tahun lalu dengan Israel dan AS, hampir 1.000 kapal per hari mengalami gangguan sinyal GPS di dekat pantai Iran, yang menyebabkan satu tabrakan kapal tanker. Ranjau laut adalah pilihan lain yang telah lama diancam untuk menghalangi pelayaran.
Produksi Iran
Produksi minyak Iran telah meningkat menjadi sekitar 3,3 juta bph dari kurang dari 2 juta bph pada 2020, meskipun sanksi internasional terus berlanjut. Negara ini menjadi lebih mahir dalam menghindari pembatasan ini, mengirimkan sekitar 90% ekspornya ke China.
Cadangan minyak terbesar negara ini adalah Ahvaz dan Marun serta gugusan Karun Barat, semuanya di provinsi Khuzestan, yang terletak di ujung utara Teluk Persia dan berbatasan dengan Irak.
Kilang utama Iran, yang dibangun di Abadan pada 1912, dapat memproses lebih dari 500.000 bph. Pabrik-pabrik utama lainnya termasuk kilang Bandar Abbas dan Persian Gulf Star, yang menangani minyak mentah dan kondensat, sejenis minyak ultra-ringan yang melimpah di Iran. Ibu kota, Teheran, memiliki kilang sendiri.
Untuk pengiriman minyak Iran ke luar negeri, terminal Pulau Kharg di Teluk Persia utara merupakan pusat logistik utama.
Terjadi ledakan di pulau itu pada Sabtu, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, yang tidak memberikan detail lebih lanjut atau menyebutkan terminal minyak tersebut.
Pulau Kharg memiliki banyak dermaga pemuatan, jembatan, titik tambat terpencil, dan kapasitas penyimpanan minyak mentah puluhan juta barel.
Fasilitas tersebut telah menangani volume ekspor yang melebihi 2 juta bph dalam beberapa tahun terakhir.
Sanksi AS menghalangi sebagian besar calon pembeli minyak mentah Iran, tetapi kilang swasta China tetap menjadi pelanggan yang bersedia, asalkan mereka mendapatkan diskon besar.
Teheran bergantung pada armada kapal tanker tua untuk pengiriman internasionalnya, yang sebagian besar berlayar dengan transponder dinonaktifkan untuk menghindari deteksi.
Bulan lalu, Iran dengan cepat mengisi kapal tanker di Pulau Kharg, kemungkinan dalam upaya untuk memasukkan sebanyak mungkin minyak mentah ke perairan dan memindahkan kapal keluar dari jalur bahaya jika fasilitas tersebut diserang.
Mereka melakukan langkah serupa Juni tahun lalu menjelang serangan Israel dan AS.
Serangan apa pun terhadap terminal Pulau Kharg akan menjadi pukulan telak bagi perekonomian negara.
Ladang gas alam utama Iran terletak lebih jauh ke selatan di sepanjang pantai Teluk Persia.
Fasilitas di Assaluyeh dan Bandar Abbas memproses, mengangkut, dan mengirimkan gas dan kondensat untuk penggunaan domestik dalam pembangkit listrik, pemanasan, petrokimia, dan industri lainnya.
Area tersebut merupakan titik utama ekspor kondensat Iran. Selama perang Juni, serangan terhadap pabrik gas lokal memicu kegelisahan di kalangan pedagang, tetapi tidak menyebabkan lonjakan harga minyak yang berkelanjutan karena tidak memengaruhi fasilitas ekspor apa pun.
Reaksi Pasar
Harga minyak melonjak paling tinggi dalam lebih dari tiga tahun selama perang Juni, dengan minyak mentah Brent naik di atas US$80/barel di London.
Namun, kenaikan tersebut dengan cepat memudar setelah jelas bahwa infrastruktur minyak regional utama tidak rusak.
Sejak saat itu, kekhawatiran tentang kelebihan pasokan telah mendominasi pasar global, dengan harga minyak mentah di London berakhir pada 2025 sekitar 18% lebih rendah daripada awal tahun.
Terlepas dari kekhawatiran akan kelebihan pasokan tersebut, harga telah melonjak 19% tahun ini, sebagian karena kecemasan seputar potensi serangan AS terhadap Iran.
Dengan pasar berjangka minyak utama yang tutup untuk akhir pekan, wawasan tentang bagaimana para pedagang bereaksi terhadap serangan terbaru sangat terbatas.
Namun, produk perdagangan ritel, yang dijalankan oleh IG Group Ltd., menetapkan harga West Texas Intermediate (WTI) setinggi US$75,33/barel, kenaikan hingga 12% dari penutupan Jumat.
Untuk patokan global Brent, serangan tersebut kemungkinan akan mendorong pasar menuju US$80 dalam "jangka pendek" karena "siklus eskalasi yang meluas" diperhitungkan, tulis analis Bloomberg Intelligence Will Hares dan Salih Yilmaz dalam sebuah catatan.
(bbn)
























