Logo Bloomberg Technoz

Aksi Mogok Kerja, Sistem Transportasi London Terganggu

Redaksi
02 June 2026 19:27

Penumpang di pintu masuk Elizabeth Line, Stasiun Farringdon di London, Inggris, Selasa, (2/6/2026). (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Penumpang di pintu masuk Elizabeth Line, Stasiun Farringdon di London, Inggris, Selasa, (2/6/2026). (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Gangguan melanda sistem transportasi London saat sejumlah pengemudi kereta bawah tanah melakukan aksi mogok kerja.  (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Gangguan melanda sistem transportasi London saat sejumlah pengemudi kereta bawah tanah melakukan aksi mogok kerja. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Dampak pemogokan terasa di sejumlah jalur utama jaringan kereta bawah tanah London. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Dampak pemogokan terasa di sejumlah jalur utama jaringan kereta bawah tanah London. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Layanan di jalur Circle dan Piccadilly berhenti beroperasi, sementara sebagian jalur Metropolitan dan Central juga terdampak.

Layanan di jalur Circle dan Piccadilly berhenti beroperasi, sementara sebagian jalur Metropolitan dan Central juga terdampak.

Perselisihan berawal dari rencana TfL yang memungkinkan pengemudi memadatkan lima hari kerja menjadi empat hari. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Perselisihan berawal dari rencana TfL yang memungkinkan pengemudi memadatkan lima hari kerja menjadi empat hari. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Melalui penerapan shift yang lebih panjang dikhawatirkan akan berdampak pada tingkat kelelahan dan keselamatan kerja. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Melalui penerapan shift yang lebih panjang dikhawatirkan akan berdampak pada tingkat kelelahan dan keselamatan kerja. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Menjelang aksi mogok, layanan kereta hanya beroperasi secara terbatas sebelum pukul 06.30 pagi. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Menjelang aksi mogok, layanan kereta hanya beroperasi secara terbatas sebelum pukul 06.30 pagi. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Penumpang di pintu masuk Elizabeth Line, Stasiun Farringdon di London, Inggris, Selasa, (2/6/2026). (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)
Gangguan melanda sistem transportasi London saat sejumlah pengemudi kereta bawah tanah melakukan aksi mogok kerja.  (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)
Dampak pemogokan terasa di sejumlah jalur utama jaringan kereta bawah tanah London. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)
Layanan di jalur Circle dan Piccadilly berhenti beroperasi, sementara sebagian jalur Metropolitan dan Central juga terdampak.
Perselisihan berawal dari rencana TfL yang memungkinkan pengemudi memadatkan lima hari kerja menjadi empat hari. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)
Melalui penerapan shift yang lebih panjang dikhawatirkan akan berdampak pada tingkat kelelahan dan keselamatan kerja. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)
Menjelang aksi mogok, layanan kereta hanya beroperasi secara terbatas sebelum pukul 06.30 pagi. (Jose Sarmento Matos/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Gangguan besar melanda sistem transportasi London pada Senin, 2 Juni, setelah sejumlah pengemudi kereta bawah tanah melakukan aksi mogok kerja. Kondisi tersebut menyebabkan perjalanan warga ibu kota Inggris terganggu sepanjang hari.

Aksi yang digelar Serikat Pekerja Kereta Api, Maritim, dan Transportasi Nasional (RMT) tetap berlangsung setelah perundingan dengan Transport for London (TfL) tidak menghasilkan kesepakatan. Pemogokan lanjutan juga dijadwalkan berlangsung pada 4 Juni.

Dampak pemogokan terasa di sejumlah jalur utama jaringan kereta bawah tanah London. Layanan di jalur Circle dan Piccadilly berhenti beroperasi, sementara sebagian jalur Metropolitan dan Central juga terdampak.

Sejumlah jalur kereta bawah tanah lainnya masih beroperasi, tetapi mengalami keterlambatan parah. Jalur Elizabeth, Docklands Light Railway, London Overground, serta layanan bus tetap berjalan meski diperkirakan lebih padat dari biasanya.

Perselisihan berawal dari rencana TfL yang memungkinkan pengemudi memadatkan lima hari kerja menjadi empat hari melalui penerapan shift yang lebih panjang. RMT menyebut anggotanya mengkhawatirkan dampak kebijakan tersebut terhadap tingkat kelelahan dan keselamatan kerja.

TfL menilai perubahan itu dapat meningkatkan keandalan layanan serta bersifat sukarela bagi para pengemudi. Sementara itu, anggota serikat Aslef yang mewakili pengemudi kereta tidak ikut melakukan aksi mogok setelah menyetujui usulan tersebut.

“RMT tetap terbuka untuk pembicaraan yang berarti, tetapi London Underground tidak dapat melanjutkan perubahan kondisi kerja pengemudi sambil menolak untuk mengatasi masalah keselamatan dan tempat kerja yang sah,” kata juru bicara RMT pada 1 Juni.

Menjelang aksi mogok, layanan kereta hanya beroperasi secara terbatas sebelum pukul 06.30 pagi. TfL juga mengimbau penumpang agar menyelesaikan perjalanan sebelum pukul 21.00 untuk menghindari gangguan yang lebih besar.

(red)