Logo Bloomberg Technoz

Selain serangan udara, Pakistan juga melaporkan telah menembak jatuh "drone kecil" yang diluncurkan oleh militan lokal di utara ibu kota Islamabad.

Bentrokan ini merupakan puncak eskalasi setelah berbulan-bulan terjadi serangan lintas batas. Islamabad menuding pemerintah Taliban mendukung militan untuk merencanakan serangan di wilayah Pakistan—tudingan yang dibantah keras oleh pihak Taliban.

Dalam konferensi pers tersebut, Chaudhry memberi ultimatum bagi Taliban: “Mereka harus memilih: Pakistan atau militan. Pilihan kami sudah jelas.”

Mantan diplomat India sekaligus penulis, Rajiv Dogra, menilai retorika perang Pakistan ini "hanya akan semakin memprovokasi Afghanistan" dan mengindikasikan niat untuk menimbulkan kerusakan serius terhadap Taliban. "Meski situasi ini nantinya mereda, ini bukan akhir dari cerita. Gesekan dan tujuan kedua belah pihak kini terlalu jauh untuk bisa dijembatani," ujarnya.

Titik konflik Pakistan vs Afghanistan. (Sumber: Bloomberg)

Dampak konflik ini langsung menjalar ke sektor ekonomi. Obligasi dolar Pakistan dilaporkan anjlok pada hari Jumat, dengan surat utang yang jatuh tempo tahun 2031, 2051, dan 2029 berkinerja lebih buruk dibandingkan rekan sejawatnya di pasar negara berkembang (emerging markets).

Hubungan Pakistan dan Afghanistan terus memburuk sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021. Awalnya, Pakistan mendukung pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban dengan harapan pemerintahan baru tersebut dapat membantu menertibkan militan Islam. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Militan yang dikenal sebagai Taliban Pakistan (TTP) justru meningkatkan pemberontakan mereka, termasuk serangan bom di sebuah masjid di Islamabad yang menewaskan 31 orang awal bulan ini.

“Pakistan kesulitan mengendalikan meningkatnya militansi sendirian, karena perbatasan yang berpori dengan Afghanistan memberikan tempat aman bagi militan untuk mundur saat menghadapi tekanan militer,” kata Pearl Pandya, analis senior Asia Selatan di Armed Conflict Location & Event Data, organisasi nirlaba yang melacak kerusuhan politik secara global.

Upaya mediasi yang dilakukan oleh Turki dan Qatar pada akhir November lalu juga dilaporkan gagal, yang kemudian memicu aksi saling serang di perbatasan sepanjang bulan Desember.

Respons China

Tahun 2025 tercatat sebagai tahun paling berdarah di Pakistan dalam satu dekade terakhir, dengan angka kematian akibat serangan pemberontak mencapai 3.967 jiwa. Penutupan perbatasan selama berbulan-bulan juga telah mengganggu rantai pasokan dan memicu lonjakan harga pangan di Pakistan.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi China, yang berupaya bertindak sebagai mediator antara kedua negara sekaligus melindungi kepentingan ekonominya di kawasan. China memiliki hubungan erat serta investasi miliaran dolar di Pakistan melalui Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC), dan juga meningkatkan keterlibatannya dengan Taliban Afghanistan sejak kembali berkuasa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada Jumat mengatakan Beijing telah berupaya menengahi konflik melalui “jalurnya sendiri” dan mendesak kedua pihak menahan diri. “China mendukung pemberantasan segala bentuk terorisme,” ujarnya.

Bagi India, bentrokan terbaru ini semakin memperdalam ketegangan dengan Islamabad, di tengah hubungan yang sudah berada pada titik rendah setelah bentrokan lintas batas tahun lalu. Islamabad menuduh New Delhi mendukung Taliban Pakistan maupun Taliban Afghanistan. Sementara itu, Afghanistan dan India meningkatkan pembahasan pembukaan jalur perdagangan baru yang melewati Pakistan.

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi dalam unggahan di X juga menyerukan agar kedua pihak mengelola perbedaan mereka “dalam kerangka hubungan bertetangga yang baik dan melalui dialog.”

(bbn)

No more pages