Kepada WSJ, Lagarde menyampaikan bahwa ia memandang misinya adalah menjaga stabilitas harga dan keuangan, serta "melindungi mata uang euro, memastikannya tetap solid, kuat, dan siap bagi masa depan Eropa." Namun, ia menolak memberikan komentar spesifik mengenai artikel yang dirilis oleh FT.
Isu pengunduran diri Lagarde sebenarnya bukan hal baru. Juni lalu, ia sempat menepis rumor yang menyebut dirinya akan memimpin Forum Ekonomi Dunia (WEF). Dalam wawancara dengan Bloomberg Television baru-baru ini, ia bahkan menegaskan bahwa dirinya "bukanlah tipe orang yang suka menyerah."
Meski begitu, spekulasi kembali memanas setelah adanya pengumuman bahwa Gubernur Bank Sentral Prancis, Francois Villeroy de Galhau, akan meninggalkan jabatannya lebih awal sebelum negaranya melangsungkan pemilu tahun depan.
Lagarde mengakui kepada WSJ bahwa posisi di WEF adalah "satu dari sekian banyak opsi" yang ia pertimbangkan setelah nantinya benar-benar meninggalkan ECB.
Prospek kemenangan partai National Rally pimpinan Marine Le Pen telah membuat Eropa bergegas mengamankan institusi-institusi paling krusial mereka. Namun, upaya untuk menghindari konsekuensi hasil pemilu ini justru menimbulkan kekhawatiran mengenai independensi politik ECB.
Menanggapi hal tersebut, Lagarde mengatakan kepada WSJ: "Saya rasa ECB adalah institusi yang sangat dihormati dan kredibel, dan saya berharap saya telah berpartisipasi dalam menjaga hal itu."
(bbn)





























