Undervalued Menurut BI, Rupiah Terbeban Premi Risiko
Redaksi
20 February 2026 07:12

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) secara year-to-date sudah menyusut sebanyak 1,13% dan menjadi salah satu mata uang terlemah di pasar Asia.
Sejak awal tahun, rupiah sudah lebih lemah dibandingkan rupee India yang susut 0,88%, dolar Hong Kong yang turun 0,41%, dan won Korea Selatan yang tergerus 0,38%. Berbanding terbalik dengan ringgit Malaysia yang justru mencatatkan penguatan paling tinggi 3,84%, dolar Singapura menguat 1,52%, bahkan peso Filipina 1,42% dan yen Jepang 1,26%.
Di tengah pelemahan tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai bahwa depresiasi mata uang Garuda tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi domestik.
Dalam pandangan otoritas moneter, rupiah saat ini berada dalam posisi undervalued, alias terlalu murah jika dibandingkan kekuatan makroekonomi Indonesia yang disebut relatif terjaga.
"Pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar keuangan global di tengah meningkatnya permintaan valas korporasi sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi," kata Perry dalam keterangan pers setelah Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), Kamis (19/2/2026).



























