Reydi mengatakan dengan komposisi portofolio yang seimbang antara aset jangka panjang dan instrumen likuid ber-yield kompetitif, peluang pencapaian target 7–8% dinilai lebih rasional dalam jangka menengah hingga panjang.
Target imbal hasil aset Danantara tersebut, yang di kisaran 7–8% dinilai berada pada level yang relatif sebanding dengan sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Target tersebut sebelumnya disampaikan sebagai arahan Presiden Prabowo Subianto bagi lembaga yang saat ini mengelola aset hingga sekitar US$900 miliar.
Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai, bila dibandingkan dengan emiten seperti Sumber Alfaria Trijaya, Bukit Asam, atau Telkom Indonesia yang mencatatkan ROA di kisaran 7%, target Danantara terlihat konservatif.
Ia menjelaskan, dari sisi skala aset dan fokus pada hilirisasi serta proyek strategis, secara teoritis Danantara memiliki peluang untuk membidik imbal hasil di atas 10%, mengingat fleksibilitas investasi, peluang kemitraan global, serta akses terhadap proyek strategis nasional.
Namun demikian, ia menekankan bahwa karakter Danantara berbeda dengan emiten di Bursa karena emiten merupakan entitas operasional, sedangkan Danantara berperan sebagai pengelola aset lintas sektor dengan profil risiko yang beragam.
Menurutnya, pada skala pengelolaan sebesar itu, target ROA 7–8% dapat dipandang sebagai kombinasi antara ambisi dan kehati-hatian, dengan potensi dampak signifikan terhadap perekonomian apabila tercapai secara konsisten.
(dhf)




























