Proyeksi pertumbuhan ini jadi oase di tengah ancaman penurunan kelas pasar Indonesia dari emerging ke frontier market oleh MSCI. Langkah taktis yang diambil regulator pada akhir pekan lalu dilanjutkan dengan pertemuan petinggi MSCI untuk menyatakan komitmen keterbukaan pemilik saham dan angka free float yang dituntut oleh lembaga pemeringkat ini, telah sedikit meredam pasar.
Meski begitu, agaknya pasar masih menantikan perubahan struktural yang menjadi kekhawatirannya selama ini.
Tamara Handerson, Ekonom Bloomberg menyebut peringatan MSCI menambah tekanan terhadap kepercayaan investor yang masuk dalam rangkaian peristiwa sejak pemerintahan baru ini dijalankan. “Situasi ini berpotensi membatasi efektivitas upaya stabilisasi pasar jangka pendek, dan menekan prospek pertumbuhan jangka panjang,” kata Tamara dalam laporannya, Rabu (4/2/2026).
Tamara menambahkan, dari sisi moneter dan fiskal, independensi Bank Indonesia menjadi sorotan setelah penunjukan Thomas Djiwandono sebagai deputi gubernur BI serta penerapan skema burden sharing baru untuk mendukung program perumahan murah pemerintah. Di sisi fiskal, pemberhentian Sri Mulyani Indrawati membuka kembali perdebatan soal batas defisit anggaran 3% PDB, sementara realisasi defisit 2025 juga meleset dari target meski masih dalam batas ketentuan.
Kekhawatiran investor turut diperkuat oleh pembentukan Danantara, dana kekayaan negara yang memusatkan pengelolaan aset BUMN dan alokasi modal di bawah kendali eksekutif. Struktur tata kelola yang dinilai kurang transparan dan lemahnya pengaman dinilai meningkatkan risiko intervensi politik, konflik kepentingan, serta pada akhirnya menggerus kepercayaan investor.
Meski demikian, jika melihat prospek pertumbuhan ekonomi tahun ini, peluang pemulihan sentimen masih terbuka. Stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, serta basis konsumsi domestik yang besar, bisa memulihkan kepercayaan pasar, dengan catatan pemerintah melakukan penguatan tata kelola, dan kebijakan yang konsisten, serta adanya penegakan disiplin fiskal. Dengan begitu, setidaknya Indonesia masih punya fondasi buat menarik minat investor.
(riset/aji)































