Logo Bloomberg Technoz

Thailand Terseret Dugaan Penyelundupan Chip AI Nvidia ke China

Redaksi
08 May 2026 19:00

Diduga Chip Nvidia Diselundupkan ke Alibaba Melalui Thailand (Bloomberg)
Diduga Chip Nvidia Diselundupkan ke Alibaba Melalui Thailand (Bloomberg)

Bloomberg, Salah satu perusahaan teknologi yang terlibat dalam proyek kecerdasan buatan (AI) nasional Thailand diduga membantu aksi penyelundupan server AI berisi chip canggih Nvidia Corp. ke China senilai miliaran dolar AS dengan Alibaba Group Holding Ltd. disebut sebagai salah satu pelanggannya.

Seorang Jaksa di Amerika Serikat (AS) dalam dakwaan yang dirilis Maret lalu mengungkap adanya skema pengalihan semikonduktor AI melalui perusahaan Asia Tenggara yang hanya disebut sebagai “Company-1”.

Sejumlah sumber yang mengetahui kasus tersebut mengatakan perusahaan itu adalah OBON Corp yang berbasis di Bangkok, Thailand.

Sebagian server AI senilai US$2,5 miliar (sekitar Rp43,45 triliun) yang dijual ke OBON disebut berakhir di tangan raksasa teknologi China, Alibaba Group Holding Ltd sebagaimana menurut sumber.

Jaksa menambahkan bahwa dugaan operasi tersebut membuat saham Super Mikro anjlok tajam. Kasus ini menjadi penindakan penyelundupan chip terbesar sejak Washington mulai membatasi ekspor chip AI Nvidia ke China pada 2022.

Meski begitu, dakwaan AS tidak secara resmi menyebut nama OBON maupun Alibaba. Otoritas AS juga belum menuduh kedua perusahaan melakukan pelanggaran secara langsung.

“Alibaba tidak memiliki hubungan bisnis dengan Super Micro, OBON, maupun broker pihak ketiga yang mungkin disebut dalam dakwaan tersebut,” kata juru bicara Alibaba.

“Kami tidak terlibat dalam aktivitas penyelundupan yang dituduhkan. Kami saat ini tidak menggunakan, dan tidak pernah menggunakan, chip Nvidia yang dilarang di pusat data kami.”

OBON sendiri dikenal sebagai perusahaan yang membantu pembentukan Siam AI, proyek cloud AI nasional Thailand. Dalam siaran pers Mei 2024, OBON menyebut akan menggunakan server Nvidia untuk membangun Siam AI Cloud di Bangkok.

Siam AI kemudian menjadi mitra cloud resmi Nvidia pertama di Thailand dan sempat menghadirkan CEO Nvidia Jensen Huang dalam acara besar bertema sovereign AI atau kedaulatan AI nasional.

“Bagian terpenting dari AI adalah data, dan data Thailand adalah milik rakyat Thailand,” kata Huang dalam acara Siam AI pada Desember 2024.

CEO Siam AI, Ratanaphon Wongnapachant yang juga keponakan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, mengatakan Siam AI tidak terlibat dalam dugaan penyelundupan chip tersebut.

“Saya hanya akan menjawab mengenai Siam AI, yaitu bahwa perusahaan ini tidak terlibat,” terang Wongnapachant.

Ia menambahkan bahwa Siam AI mengimpor GPU Nvidia untuk penggunaan internal perusahaan. Sumber lain menyebut OBON merupakan salah satu pemasok server AI bagi Siam AI di Thailand.

Dugaan keterlibatan OBON berpotensi menjadi tamparan bagi ambisi AI Thailand dan memicu kembali dorongan di Washington untuk membatasi penjualan chip ke kawasan Asia Tenggara. AS sebelumnya sudah tiga kali mempertimbangkan kontrol ekspor semikonduktor ke Thailand namun belum pernah menerapkannya.

Kasus ini juga memunculkan pertanyaan baru mengenai efektivitas pengawasan Nvidia terhadap penjualan perangkat keras AI dalam volume besar. Di luar Thailand, dua mitra resmi Nvidia di Singapura juga tengah diselidiki terkait dugaan pelanggaran perdagangan semikonduktor.

Diduga Chip Nvidia Diselundupkan ke Alibaba Melalui Thailand (Bloomberg)

“Mitra ekosistem kami harus berkomitmen pada kepatuhan ketat di setiap level,” kata juru bicara Nvidia.

“Upaya due diligence kami telah membantu penuntutan terhadap calon penyelundup dan kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk menegakkan aturan sambil membangun infrastruktur AI dunia.”

Chip Nvidia saat ini menjadi komponen paling diburu dalam era AI. Perusahaan seperti OpenAI menggunakan ribuan chip tersebut di pusat data besar untuk melatih dan menjalankan model seperti ChatGPT, sementara pemerintah di berbagai negara menganggapnya penting bagi kedaulatan teknologi.

Sejak 2022, Washington secara efektif memblokir pengiriman chip AI canggih Nvidia ke China karena khawatir teknologi AI dapat memberi keunggulan militer bagi Beijing. Aturan tersebut mewajibkan perusahaan memperoleh izin pemerintah AS untuk mengirim hampir semua chip AI Nvidia ke China.

Kondisi itu membuat perusahaan China praktis hanya memiliki dua pilihan untuk mengakses perangkat keras AI terbaik: menyewa chip yang berada di luar negeri atau memperoleh chip yang diselundupkan ke China.

Salah satu pendiri Super Micro, Yih-Shyan “Wally” Liaw, membantah dakwaan pengalihan chip tersebut, begitu pula kontraktor eksternal Ting-Wei “Willy” Sun. Terdakwa ketiga, Ruei-Tsang “Steven” Chang, belum ditahan.

Super Micro telah meluncurkan investigasi internal dan menonaktifkan Liaw dari tugas administratif. CEO Charles Liang mengatakan dirinya “secara pribadi terkejut dan sedih” atas dugaan tindakan tersebut dan menegaskan tidak ada pihak lain di perusahaan selain yang disebut dalam dakwaan DOJ yang terlibat.

Perusahaan juga menyatakan memiliki program kepatuhan yang kuat terhadap aturan ekspor AS dan akan terus memastikan teknologinya ditangani dengan pengawasan etika dan hukum tingkat tinggi.