“Kita tahu heavy crude yang banyak diproduksi oleh Venezuela lebih cocok untuk solar dan kilang-kilang domestik lebih didesain untuk light crude oil sehingga kebutuhan impor akan menurun,” kata Ihsak ketika dihubungi, dikutip Senin (12/1/2026).
Keterlibatan AS
Ishak memprediksi rencana Presiden Donald Trump melibatkan perusahaan minyak AS untuk berinvestasi memperbaiki infrastruktur Venezuela memerlukan waktu bertahun-tahun.
Dia menyatakan, jika AS nantinya mengelola migas Venezuela, Negeri Paman Sam bisa mengendalikan pasokan untuk menghindari banjirnya pasokan minyak Venezuela ke pasar.
“AS juga berkepentingan agar harga tidak terlalu jatuh sebab biaya produksi shale oil di AS relatif tinggi dan kalaupun diekspor maka akan diprioritaskan ke kilang di Gulf Coast daripada ke Asia,” tegas Ishak.
Ishak mengkalkulasi keterlibatan AS di Venezuela dapat menekan harga minyak jangka panjang jika produksi negara tersebut bisa pulih ke level 2—3 juta barel per hari (bph) dalam 2 hingga 5 tahun.
Dalam jangka pendek, lanjut dia, jika tidak terdapat eskalasi lebih lanjut, harga minyak diproyeksikan cenderung lebih dipengaruhi surplus pasokan global yang sudah ada.
Hal ini, menurutnya, tecermin dengan pergerakan harga Brent yang hanya naik sekitar US$2 per barel setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Meskipun begitu, dia mewaspadai dampak jangka panjangnya yakni ketika AS mampu mengonsolidasi produksi minyak negaranya dan Venezuela maka berpotensi menggeser posisi OPEC+—termasuk Rusia dan Iran—dalam penguasaan cadangan.
“Secara politik akan sangat menguntungkan AS dalam mempengaruhi pendapatan negara-negara yang menjadi musuh politiknya,” papar Ishak.
Sebagai informasi, Trump pekan lalu menyatakan bahwa Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS. Minyak tersebut akan dijual, di mana hasilnya akan memberikan keuntungan bagi kedua pihak.
“Saya dengan bangga mengumumkan bahwa Otoritas Interim di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang terkena sanksi kepada Amerika Serikat,” tulis Trump dalam unggahannya di media sosial, Selasa (6/1).
“Minyak ini akan dijual sesuai harga pasar, dan uang tersebut akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan dana tersebut digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” tambah Trump.
Menyusul pernyataan tersebut, harga West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi tolok ukur minyak AS, sempat anjlok hingga 2,4%.
Jika akurat, volume yang disebutkan Trump setara dengan sekitar 30 hingga 50 hari produksi minyak Venezuela sebelum diberlakukannya blokade parsial AS terhadap negara tersebut — angka yang jauh lebih rendah dibandingkan tingkat produksi historis.
Dengan harga WTI saat ini, nilai minyak tersebut bisa mencapai hingga US$2,8 miliar.
Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, namun produksinya merosot tajam akibat puluhan tahun kurangnya perawatan serta hengkangnya banyak perusahaan minyak asing.
Saat ini, Venezuela hanya menyumbang kurang dari 1% pasokan minyak global. Para analis menilai diperlukan waktu bertahun-tahun dan investasi miliaran dolar AS untuk memulihkan produksi secara signifikan.
Venezuela juga memiliki tumpukan minyak yang belum dikapalkan dan terus menumpuk di tangki penyimpanan maupun di atas kapal sewaan sejak blokade AS dimulai bulan lalu.
Perusahaan minyak milik negara telah menyimpan jutaan barel minyak dan berpotensi kehabisan kapasitas penyimpanan dalam hitungan minggu, menurut perusahaan intelijen maritim Kpler.
(azr/wdh)





























