Logo Bloomberg Technoz

Bahlil Soal Penutupan Selat Hormuz: Alihkan Impor Migas ke AS

Azura Yumna Ramadani Purnama
03 March 2026 18:20

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat bertemu awak media di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/2/2026). (Bloomberg Technoz/Dovana Hasiana)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat bertemu awak media di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/2/2026). (Bloomberg Technoz/Dovana Hasiana)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bakal segera mempercepat pengalihan impor minyak dan gas (migas) dari Amerika Serikat (AS), seiring terjadinya penutupan Selat Hormuz akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Bahlil menyatakan terdapat sekitar 20–25% minyak mentah yang diimpor oleh Indonesia melewati Selat Hormuz. Dia mencatat total minyak mentah global yang diperdagangkan melewati Selat Hormuz sebesar 20,1 juta barel per hari (bph).

Lebih lanjut, dia menegaskan belum dapat meramal kondisi penutupan Selat Hormuz tersebut terjadi berapa lama. Oleh sebab itu, Kementerian ESDM memutuskan untuk mengalihkan impor ke AS dengan asumsi penutupan jalur dagang tersebut terjadi dalam jangka waktu panjang.


"Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20–25% dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana. Apa strategi yang harus kita lakukan agar kita tidak terperangkap dengan dinamika global?" kata Bahlil usai rapat Dewan Energi Nasional (DEN) di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).

"Nah, dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita," ungkap Bahlil.