Logo Bloomberg Technoz

RI Mau Impor Migas AS Saat Harga Naik: Bayar Mahal, Dapat Sedikit

Azura Yumna Ramadani Purnama
03 March 2026 10:40

Kapal minyak. (Bloomberg)
Kapal minyak. (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Ekonom memandang percepatan impor minyak dan gas (migas) senilai US$15 miliar atau setara Rp253 triliun dari Amerika Serikat (AS) dalam rangka memenuhi perjanjian tarif resiprokal bakal merugikan Indonesia, sebab volume impor diprediksi bakal menyusut.

Hal tersebut diungkapkan menanggapi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyatakan bakal mempercepat impor migas dari AS sebagai solusi menjaga ketahanan energi di tengah lonjakan harga minyak dunia gegara konflik di Timur Tengah.

Ekonom dari Universitas Andalas Syafruddin Karimi memprediksi, dengan asumsi kesepakatan nilai pembelian US$15 miliar dan tanpa ada kesepakatan soal volume, kenaikan harga komoditas energi sebesar 10% saja bisa menurunkan volume barang yang didapatkan RI hingga 9,09%.


Lebih lanjut, jika harga komoditas energi naik sebesar 20%, volume impor yang didapatkan makin menyusut sebesar 16,67%. Selanjutnya, jika harga komoditas energi naik mencapai 30%, volume impor bisa terpangkas 23,08%.

Dalam skenario ekstrem, jika harga komoditas energi melonjak 50%, volume impor yang dilakukan Indonesia bisa susut hingga 33%.

Harga Minyak Brent, Volatilitas (Bloomberg)