Logo Bloomberg Technoz

Konflik Timur Tengah Bayangi Kenaikan BBM, Beban Subsidi Disorot

Pramesti Regita Cindy
04 March 2026 14:05

Para pedagang kripto berada dalam keadaan cemas karena harga minyak memberikan sinyal risiko. (Bloomberg)
Para pedagang kripto berada dalam keadaan cemas karena harga minyak memberikan sinyal risiko. (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menilai kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri sehingga memperbesar risiko inflasi. 

Hal ini sekaligus merespons kondisi geopolitik global yang memanas imbas serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran dan terganggunya salah satu urat nadi terpenting perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz.

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, mengatakan dalam situasi harga minyak global yang meningkat, tekanan penyesuaian harga BBM domestik hampir tidak terhindarkan. Namun menurutnya, isu utamanya bukan sekadar apakah harga BBM akan naik, melainkan sejauh mana pemerintah mampu menahan kenaikan tersebut melalui instrumen fiskal.


"Jika pemerintah menahan kenaikan melalui subsidi, maka konsekuensinya ada pada peningkatan beban fiskal. Sebaliknya, jika dilepas maka tekanan terhadap inflasi bisa menjadi lebih kuat," kata Piter dalam keterangan resminya, Rabu (4/3/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa posisi Indonesia sebagai net importer minyak membuat tekanan tersebut semakin signifikan. Konsumsi minyak nasional mencapai hampir 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik kurang dari separuhnya. Ketergantungan terhadap impor menjadikan Indonesia sensitif terhadap lonjakan harga minyak dunia dan fluktuasi nilai tukar dolar AS.