“Protes Anda harus didengar, dan kami harus menanggapi kekhawatiran Anda. Mari kita duduk bersama, bergandengan tangan, dan menyelesaikan masalah ini,” kata Pezeshkian, tanpa merinci bagaimana langkah itu akan dilakukan. “Saya berjanji kepada rakyat tercinta—yang mungkin 90 persennya memiliki kekhawatiran—bahwa kami akan menanggapi kegelisahan mereka. Kita akan melewati krisis ini.”
Meski demikian, Pezeshkian menuduh AS dan Israel membawa masuk “teroris dari luar negeri,” yang menurutnya telah membakar masjid dan pasar, “memenggal beberapa orang, dan membakar yang lain hidup-hidup.” Pejabat lain bahkan mengambil sikap yang lebih keras.
“Jika terjadi serangan militer AS, maka wilayah pendudukan dan pusat-pusat militer serta pelayaran AS akan menjadi target sah bagi kami,” ujar Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah pada Minggu.
Ia kembali menegaskan peringatan bahwa Iran dapat bertindak secara preemptif terhadap potensi ancaman. “Dalam kerangka pembelaan diri yang sah, kami tidak membatasi diri hanya untuk merespons setelah serangan terjadi,” katanya.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump telah menerima pengarahan dalam beberapa hari terakhir mengenai berbagai opsi serangan militer terhadap Iran, termasuk sasaran nonmiliter, mengonfirmasi laporan sebelumnya dari The New York Times. Menurut pejabat tersebut, presiden AS tengah mempertimbangkan secara serius untuk memberi izin serangan.
Radio Angkatan Darat Israel melaporkan pada Minggu bahwa kalangan keamanan Israel menilai kecil kemungkinan Iran akan menyerang Israel pada tahap ini. “Tidak ada indikasi kesiapan langsung semacam itu di Israel—yang terlihat justru fokus Iran pada persoalan internal,” ujar laporan itu, mengutip pejabat pertahanan yang tidak disebutkan namanya.
Rekaman dari sejumlah kota di Iran menunjukkan ratusan ribu orang, termasuk banyak lansia, tetap turun ke jalan meski ada peringatan keras dari otoritas agar warga tetap di rumah. Aksi tersebut berlangsung di tengah pemadaman internet nasional dan pembatasan telekomunikasi ketat yang telah memblokir panggilan dan pesan singkat sejak Kamis.
Kelompok pemantau internet NetBlocks menyatakan dalam unggahan di X pada Minggu dini hari bahwa konektivitas internet di Iran “terus mendatar di sekitar 1% dari tingkat normal.”
Namun demikian, sejumlah video di media sosial—yang dilaporkan berasal dari sebuah gudang di Teheran selatan—memperlihatkan orang-orang menyusuri puluhan jenazah di dalam kantong mayat yang berjajar di lantai dan di atas tandu. Terdengar tangisan saat mereka membungkuk ke arah kantong-kantong tersebut untuk mencoba mengenali anggota keluarga mereka.
Sebuah video yang dirilis kemudian pada Minggu oleh IRIB News, media milik negara, tampak menunjukkan lokasi gudang yang sama—menjadi salah satu gambaran pertama dari media resmi mengenai skala korban tewas. Dalam video itu, seorang reporter menyebut lokasi tersebut sebagai kompleks organisasi forensik negara di Teheran, dengan puluhan jenazah berada di dalam sebuah fasilitas tertutup yang besar. Di luar, puluhan orang terlihat berkumpul di sekitar ambulans dan bagian belakang kendaraan yang diduga truk berpendingin, mencari kerabat mereka.
Protes bermula bulan lalu di kalangan pedagang di Teheran akibat memburuknya kondisi ekonomi dan biaya hidup, namun sejak itu berkembang menjadi demonstrasi anti-rezim terbesar sejak 2022. Saat itu, kematian Mahsa Amini dalam tahanan memicu kemarahan nasional dan gelombang protes massal.
Video lain, yang dilaporkan diambil dari wilayah barat Teheran pada Sabtu malam, memperlihatkan ribuan demonstran memadati jalanan sambil menyalakan lampu ponsel di tengah gelapnya kota akibat pemadaman listrik, diiringi siulan dan teriakan “Matilah sang diktator.” Sebuah truk terlihat terbakar di Mashhad, sementara rekaman yang disebut berasal dari Minggu menunjukkan sebuah gedung administrasi pajak negara hangus terbakar semalam di Teheran timur. Bloomberg menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen seluruh rekaman tersebut.
Dalam unggahan di X pada Minggu, Pahlavi mendesak para demonstran untuk melanjutkan aksi mereka hingga akhir pekan. Ia menyebut Trump sebagai “pemimpin dunia bebas” yang memantau kerusuhan tersebut dan “siap membantu Anda.”
Pada Sabtu malam, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh AS dan Israel memicu kerusuhan kekerasan dan memperingatkan agar tidak ada tindakan yang diarahkan ke Teheran.
“Satu-satunya aspek ‘khayalan’ dari situasi saat ini adalah keyakinan bahwa aksi pembakaran tidak akan berujung membakar pelaku pembakarannya sendiri,” ujar Araghchi.
Selain korban tewas, sebanyak 2.638 orang lainnya telah ditahan, menurut organisasi Human Rights Activists. Beberapa korban tewas disebut berasal dari kalangan tenaga medis, dan tujuh di antaranya berusia di bawah 18 tahun.
Jaksa Agung Iran pada Sabtu memperingatkan akan digelarnya persidangan cepat dan tuntutan hukuman mati terhadap para tahanan. Peringatan ini muncul sehari setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa aparat keamanan tidak akan menoleransi “vandalisme” atau “orang-orang yang bertindak sebagai tentara bayaran kekuatan asing.”
(bbn)




























