Minim Manfaat, Impor Pakaian Bekas Cacahan AS Dinilai Tak Efisien
Sultan Ibnu Affan
27 February 2026 12:52

Bloomberg Technoz, Jakarta - Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai kesepakatan impor pakaian bekas cacahan dari Amerika Serikat dalam kerangka Reciprocal Trade Agreement (ART/ERT) tidak menguntungkan Indonesia, khususnya dari sisi nilai tambah.
Peneliti CSIS Riandy Laksono mengatakan, pakaian bekas cacahan (shredded worn clothing) pada dasarnya merupakan limbah tekstil bernilai tambah rendah yang pemanfaatannya terbatas, dan tak sebanding dengan risiko yang ditimbulkan.
“Ini bukan bahan baku strategis. Yang kita terima adalah limbah tekstil yang nilai tambahnya rendah,” ujar Riandy dalam diskusi Perjanjian Dagang Resiprokal 'Karpet Merah atau Jebakan Perdagangan' di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Riandy menyoroti bahwa dari sisi harga, pakaian bekas cacahan asal Negeri Paman Sam tersebut juga tidak kompetitif jika dibandingkan dengan sumber alternatif, terutama China.
Berdasarkan paparan data internalnya soal perbandingan harga perdagangan, sejumlah bahan tekstil dan turunannya dari AS secara konsisten lebih mahal dibandingkan produk serupa yang berasal dari China.
































