Investor juga mencermati sejumlah pernyataan pejabat The Fed pada Kamis. Gubernur The Fed Cleveland, Beth Hammack, menyebut inflasi masih menjadi risiko yang lebih besar dibanding pelemahan tenaga kerja. Sementara itu, Gubernur The Fed Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan ketiadaan data inflasi akibat penutupan pemerintahan membuatnya berhati-hati terkait pemangkasan suku bunga. Deputi Gubernur The Fed Michael Barr menegaskan bahwa pekerjaan bank sentral untuk menurunkan inflasi belum selesai dan pasar tenaga kerja harus tetap kuat.
Indeks S&P 500 turun 1,1%. Saham Nvidia Corp dan Tesla Inc memimpin pelemahan di kelompok saham berkapitalisasi besar, sementara UBS US AI Winners Index merosot hampir 3%. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun tujuh basis poin menjadi 4,09%. Pasar uang kini memperkirakan peluang lebih dari 60% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga bulan depan. Indeks dolar turun 0,3%, dan harga Bitcoin melemah sekitar 3%.
“Kami tetap berpendapat bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember karena kebijakan yang terlalu ketat dapat memperburuk kondisi tenaga kerja yang sudah rapuh,” kata Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman & Co.
Karena terbatasnya data resmi akibat penutupan pemerintahan AS, investor kini mengandalkan laporan swasta untuk membaca kondisi ekonomi. Perusahaan-perusahaan mengumumkan 153.074 PHK pada Oktober—hampir tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, terutama dari sektor teknologi dan pergudangan. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi untuk bulan Oktober sejak 2003, ujar Andy Challenger, Chief Revenue Officer perusahaan tersebut.
Menurut Adam Schickling, ekonom senior di Vanguard, gelombang PHK kali ini menimbulkan risiko tenaga kerja yang lebih besar dibanding 2022, karena kali ini pekerja yang terdampak tidak mudah terserap ke industri lain. Namun, ia menilai bahwa keterbatasan pasokan tenaga kerja selama tiga tahun ke depan dapat membantu menahan lonjakan pengangguran.
Data dari Revelio Labs juga menunjukkan AS kehilangan 9.100 pekerjaan non-pertanian pada Oktober, setelah menambah 33.000 pekerjaan di bulan sebelumnya.
“Data ini menegaskan sulitnya berargumen bahwa perekrutan sedang kembali menguat,” kata Vail Hartman dari BMO Capital Markets. “Jika digabungkan dengan data PHK dari Challenger, kami tetap skeptis bahwa pasar tenaga kerja sedang menguat menuju akhir tahun.”
Don Rissmiller dari Strategas menambahkan bahwa pasar tenaga kerja AS memang belum kolaps, namun juga tidak cukup tangguh menghadapi guncangan. “Jika pasar tenaga kerja terus goyah, The Fed mungkin akan dipaksa untuk kembali memangkas suku bunga pada pertemuan Desember,” ujarnya.
The Fed sebelumnya memangkas suku bunga pada Oktober untuk menopang pasar tenaga kerja yang melemah. Namun, inflasi sebesar 3% pada September—masih di atas target 2%—membuat sebagian pejabat khawatir proses penurunan harga akan memakan waktu lebih lama.
Gubernur The Fed Jerome Powell belakangan memperingatkan agar tidak terlalu cepat memprediksi apakah pemangkasan lanjutan akan dilakukan pada 2025. Namun, Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Global Wealth Management memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga dua kali lagi hingga awal 2026.
“Bukti pelemahan pasar tenaga kerja akan terus meningkat, dan inflasi yang baru-baru ini dirilis belum cukup untuk mengubah fokus The Fed dari lemahnya permintaan tenaga kerja,” katanya. “Pemangkasan suku bunga lebih lanjut akan mendorong penurunan imbal hasil obligasi.”
Ia menambahkan, instrumen pendapatan tetap berkualitas kini menawarkan kombinasi menarik antara imbal hasil dan potensi kinerja yang baik jika ekonomi melambat. Investor pendapatan juga dapat mempertimbangkan strategi berbasis ekuitas yang menghasilkan dividen untuk meningkatkan imbal hasil kas.
“Penurunan suku bunga hari ini cukup signifikan,” ujar Louis Navellier dari Navellier & Associates. “Namun imbal hasil masih di atas level sebelum pemangkasan Oktober, dan ini kemungkinan lebih merupakan reaksi terhadap volatilitas pasar saham daripada perubahan sikap The Fed.”
Navellier menilai masih ada peluang reli saham di akhir tahun begitu penutupan pemerintahan berakhir dan isu tarif terselesaikan. “Dua minggu lagi laporan keuangan Nvidia akan keluar—jika hasilnya kuat, itu bisa jadi katalis untuk menghidupkan kembali narasi AI,” katanya. “Dan jika diikuti pemangkasan suku bunga Desember, kita bisa menutup tahun ini dengan optimisme.”
Ia juga menegaskan bahwa koreksi pasar seperti ini masih tergolong wajar dan tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Menurut analis JPMorgan Chase & Co, aliran dana kuat dari investor ritel kemungkinan masih akan menopang saham hingga akhir tahun. Berdasarkan pola musiman yang diamati selama satu dekade terakhir, arus masuk dana ke pasar saham biasanya meningkat pada Desember dan kuartal pertama tahun berikutnya, terutama di luar tahun pemilu AS.
“Selain fakta bahwa koreksi merupakan bagian alami dari tren naik yang kuat, kekhawatiran akan ‘kehancuran AI’ terlalu dilebih-lebihkan,” kata Daniel Skelly, Kepala Riset dan Strategi Pasar Morgan Stanley Wealth Management. “Bukan berarti penurunan besar tidak mungkin terjadi, atau beberapa saham tidak dinilai terlalu tinggi, tetapi kisah besar AI masih solid.”
Menurutnya, kisah itu ditopang oleh inti perusahaan besar dengan pendanaan kuat, kinerja laba stabil, dan pengalaman lebih dari tiga dekade melewati berbagai siklus teknologi—mulai dari era internet, ponsel, e-commerce, komputasi awan, hingga AI.
Sementara itu, CEO OpenAI Sam Altman menepis anggapan bahwa perusahaannya mencari jaminan dari pemerintah untuk mengurangi risiko investasi besar-besaran pada infrastruktur AI. “Kami tidak memiliki dan tidak menginginkan jaminan pemerintah untuk pusat data OpenAI,” tulis Altman dalam unggahan panjang di media sosial pada Kamis. “Pembayar pajak tidak seharusnya menanggung kerugian akibat keputusan bisnis yang buruk atau kegagalan pasar.”
(bbn)




























