Sinyal kehati-hatian ini muncul di tengah pasar properti Korea yang terus menguat. Harga apartemen di Seoul telah naik selama 37 minggu berturut-turut hingga 13 Oktober, meski pemerintah telah menerapkan serangkaian kebijakan untuk menahan permintaan. Data terbaru akan dirilis pada Kamis malam.
“Terlepas dari ada atau tidaknya gelembung, harga perumahan di kawasan Seoul Raya berada pada level yang terlalu tinggi dibandingkan dengan pendapatan nasional dan stabilitas sosial,” kata Rhee.
Pembuat kebijakan khawatir lonjakan harga properti yang berkelanjutan dan meningkatnya utang hipotek dapat mengancam stabilitas keuangan.
“Dengan percepatan kembali harga apartemen di Seoul dan tekanan baru terhadap won, kondisi saat ini belum mendukung pelonggaran kebijakan pada Oktober,” ujar Bumki Son, ekonom di Barclays Bank PLC.
“Kami memperkirakan BoK akan tetap membuka peluang untuk pemangkasan lanjutan—kemungkinan pada November, tergantung pada seberapa efektif pembatasan kredit rumah tangga yang berlaku sejak 15 Oktober dapat mendinginkan pasar properti,” kata Hyosung Kwon, ekonom di Bloomberg Economics.
Para ekonom masih terbelah soal arah kebijakan BoK ke depan. Sebagian menilai siklus penurunan suku bunga telah berakhir, sementara yang lain memperkirakan pelonggaran akan dilanjutkan setelah risiko pasar properti mereda. Citi memprediksi suku bunga acuan akan tetap di 2,5% untuk sementara waktu karena tekanan dari harga rumah dan nilai tukar, sedangkan Morgan Stanley memperkirakan BoK akan memangkas suku bunga pada November seiring berlakunya aturan baru di sektor properti.
Pertumbuhan kredit rumah tangga melambat menjadi 2% bulan lalu—laju terendah sejak Maret—sementara pinjaman hipotek naik 2,5%, menurut data bank sentral. Perbedaan ini menyoroti tantangan bagi pembuat kebijakan dalam mendorong pertumbuhan tanpa memperburuk leverage di sektor properti.
Pemerintah pekan lalu mengumumkan serangkaian kebijakan baru untuk menekan kenaikan harga rumah di Seoul Raya. Langkah-langkah tersebut mencakup batas kredit hipotek yang lebih ketat berdasarkan nilai rumah, perluasan zona pengawasan, serta percepatan peningkatan bobot risiko pada pinjaman perumahan bank. Otoritas menyatakan kebijakan ini bertujuan mengalihkan kredit dari sektor real estat dan mencegah aliran modal yang berlebihan ke pasar perumahan.
Inflasi saat ini masih mendekati target bank sentral sebesar 2%, memberi ruang bagi pelonggaran lebih lanjut jika kondisi memungkinkan. Harga konsumen naik 2,1% pada September dibanding tahun sebelumnya, meningkat dari 1,7% setelah berakhirnya potongan biaya telekomunikasi sementara. Inflasi inti tercatat sebesar 2%. BoK menilai tekanan harga secara keseluruhan masih terkendali.
Ekonom juga mencermati kinerja ekspor, mengingat tarif AS mulai membebani pengiriman utama seperti mobil. Pembicaraan dagang dengan Washington masih buntu, meski kedua pihak tengah merampungkan detail dari komitmen investasi senilai US$350 miliar terkait kesepakatan pembatasan tarif produk Korea di angka 15%.
BoK memperkirakan tarif AS akan memangkas pertumbuhan ekonomi Korea sebesar 0,45 poin persentase tahun ini dan 0,6 poin pada 2026. Pada Agustus lalu, BoK menaikkan proyeksi pertumbuhan tahun ini menjadi 0,9% dari 0,8% pada Mei, sejalan dengan perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF) awal bulan ini.
Otoritas juga diminta mewaspadai kebijakan Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), karena perbedaan arah kebijakan dapat memicu volatilitas nilai tukar.
“Kami menilai siklus pemangkasan BoK kemungkinan hanya tertunda, bukan berakhir,” ujar Kathleen Oh, Kepala Ekonom Korea di Morgan Stanley. “Namun, prospek pemangkasan tambahan tahun depan tampak lebih samar, mengingat sensitivitas yang meningkat terhadap pasar perumahan menjelang pemilu lokal.”
(bbn)





























