Lebih lanjut, secara ekonomi, SBY mengklaim berhasil memulihkan stabilitas makro dengan rata-rata pertumbuhan PDB sebesar 6% selama 10 tahun pemerintahannya. "Lebih penting lagi, kami menurunkan utang publik menjadi kurang dari 25% dari PDB, mengurangi angka kemiskinan, serta meningkatkan akses pendidikan dan layanan kesehatan," ujarnya.
SBY juga menyoroti peran aktif Indonesia di panggung internasional dengan bergabung dalam G20, menyelenggarakan Bali Democracy Forum, serta mendorong perdamaian melalui kerja sama dengan PBB, APEC, dan ASEAN.
Pada kesempatan yang sama, SBY juga menanggapi kondisi global saat ini yang penuh ketidakpastian akibat perang, konflik geopolitik, dan perubahan tatanan ekonomi. Dalam pandangannya, Asia Tenggara memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan baru, terutama saat sejumlah industri mempertimbangkan relokasi dari China.
Oleh karena itu, ia menekankan agar kawasan Asia Tenggara harus lincah dalam memanfaatkan momentum ini, menjaga hubungan baik dengan China dan negara-negara Barat, serta membangun kerja sama yang saling menguntungkan.
"Karena itu, kita perlu menjaga hubungan baik dengan keduanya—berlandaskan saling menghormati, saling percaya, dan saling menguntungkan," jelasnya.
Ia pun lantas mengajak negara-negara Asia Tenggara untuk bekerja lebih keras di tiga sektor, mulai dari meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat ketahanan ekonomi, serta membangun narasi kawasan yang solid di tengah dunia yang makin terfragmentasi.
(wep)




























