Logo Bloomberg Technoz

“Hanya saja, perubahan strategi itu tidak bisa spontan tercermin pada kinerja. Pasalnya, reksa dana itu ukurannya besar, bahkan diumpamakan seperti kapal besar. Ketika hendak belok, dia tidak bisa “sat set” karena ukurannya jumbo. Itu yang mengakibatkan porsi dana yang bisa digerakkan dengan leluasa tidak banyak,” jelas Edbert Suryajaya, analis reksa dana, Vice President, Head of Product, Research and Consulting Services Infovesta Utama kepada Bloomberg Technoz.

Pada produk-produk reksa dana yang sudah besar nilai dana kelolaannya, underlying asset kebanyakan berisi saham-saham berkapitalisasi besar. Jadi, demikian Edbert, ketika saham-saham big caps kalah dengan IHSG, kemungkinan reksa dana juga akan kalah atau tumbuh di bawah benchmark

PR Bagi Investor

Tahun lalu, menurut analis, memang bukan tahun terbaik bagi reksa dana menilik sentimen negatif banyak yang menekan harga saham dan obligasi sehingga berpengaruh terhadap kinerja reksa dana baik yang berbasis saham maupun pendapatan tetap.  

Tahun ini di tengah bayangan perlambatan ekonomi, kinerja emiten masih berpeluang untuk mencetak kinerja lebih bagus, terutama dalam jangka panjang. “Jadi, dalam jangka panjang, saya percaya masih akan solid sehingga kinerja reksa dana long term juga masih akan atraktif, terutama bila bicara reksa dana saham,” kata Edbert.

Adapun reksa dana terproteksi ataupun reksa dana pendapatan tetap juga masih bisa menjadi pilihan bagi investor ritel yang cenderung konservatif.

“Hanya saja, memang investor juga punya PR lebih besar untuk benar-benar memilih dan memantau [kinerja] reksa dananya,” kata Edbert. 

Cek Kinerja Historis

Reksa dana masih menjadi pilihan aman bagi investor pemula yang belum siap terjun langsung berinvestasi di saham. “Daripada beli saham karena ikut-ikutan, lebih baik mencoba investasi melalui reksa dana dan pastikan memilih produk reksa dana yang bagus,” saran Edbert.

Beberapa trik yang penting diperhatikan agar pemodal bisa menemukan reksa dana yang cuan di antaranya. Pertama, cek kinerja historis. Pilih reksa dana yang kinerjanya konsisten.

Misalnya, dari 10 produk reksa dana, bisa dilihat apakah dari tahun ke tahun bisa stabil di 3 besar berkinerja terbaik. 

Kedua, cek reputasi Manajer Investasi. “Kalau misalnya pernah kena kasus atau tidak itu investor perlu cek dulu,” kata Edbert. 

Ketiga, pahami dengan matang isi prospektus reksa dana yang hendak dipilih. Ini mendasar tapi banyak yang menyepelekan padahal prospektus reksa dana memuat banyak sekali informasi penting yang perlu diketahui calon investor, mulai dari strategi investasi, deretan manajer investasi yang meracik reksa dana berikut rekam jejaknya.

Keempat, rajin mengevaluasi kinerja setidaknya setiap semester. Setiap bulan manajer investasi memberikan fund fact sheet yang dapat menjadi referensi bagi investor tentang kinerja reksa dananya apakah performanya cukup stabil, juga apa saja isi keranjang investasinya. Bila dirasa kinerja reksa dana tersebut sudah tidak menjanjikan, investor bisa memindahkan dananya dengan mudah ke produk lain yang dinilai lebih prospektif memberikan cuan.

Masih Bisa 2 Digit

Beberapa reksa dana yang ada di pasar terpantau masih mampu mencetak kinerja pertumbuhan return cukup bagus di atas indeks yang menjadi benchmark-nya. Mengutip Infovesta Utama, beberapa di antaranya adalah:

Schroder Dana Prestasi Plus yang mencetak return setahun sebesar 12,53% pada 2022. Lalu, ada juga Sucorinvest Equity Fund yang mencetak return 9,38%. Lalu ada juga Avrist Ada Saham Blue Safir dengan return rate setahun pada 2022 mencapai 6,73%. 

Bahkan beberapa reksa dana indeks yang sifatnya passive fund berhasil mencetak tumbuh jauh melampaui IHSG. Misalnya, BNP Paribas Sri kehati dengan return rate setahun 13,43% dan Allianz SRI Kehati Index Fund sebesar 13,26%.

Reksa dana pendapatan tetap yang melampaui kinerja indeks obligasi pemerintah juga ada beberapa seperti Syailendra Pendapatan Tetap Premium dengan return rate 7,66% tahun lalu. 

(rui/roy)

No more pages