Logo Bloomberg Technoz

IHSG menjadi sedikit dari Bursa Asia yang tertekan dan menetap di zona merah, TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Tokyo), IHSG (Indonesia), TW Weighted Index (Taiwan), dan Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), terpangkas masing-masing 1,71%, 1,40%, 1,15%, 0,36%, dan 0,20%.

Dengan demikian, IHSG adalah indeks dengan pelemahan terdalam ketiga di Asia, ada di antara deretan dua saham indeks Jepang.

Sementara Bursa Saham Asia lainnya yang parkir di zona hijau i.a Shenzhen Comp. (China), CSI300 (China), Shanghai Composite (China), PSEI (Filipina), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), Straits Time (Singapura), SETI (Thailand), dan KOSPI (Korea Selatan), yang menguat masing-masing 2,38%, 1,64%, 1,19%, 1,10%, 0,91%, 0,52%, 0,33%, 0,10% dan 0,04%.

Salah satu sentimen yang mewarnai laju indeks dalam negeri hari ini adalah datang dari rilis data inflasi RI. Siang ini, Badan Pusat Statistik merilis data inflasi nasional periode Maret. Sesuai ekspektasi, inflasi terakselerasi dengan laju lebih tinggi dari konsensus pasar.

Pada Senin (1/4/2024), Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan terjadi inflasi 0,52% pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Lebih tinggi dibandingkan Februari yang sebesar 0,37% mtm. 

Konsensus yang dihimpun Bloomberg memperkirakan inflasi bulanan Maret di 0,4% mtm. Sedangkan inflasi komponen Inti juga naik melampaui ekspektasi sebelumnya di angka 1,77%, dibandingkan konsensus di 1,71%.

Sementara dibandingkan Maret 2023 (year-on-year/yoy), inflasi berada di 3,05%. Lebih tinggi dibandingkan Februari yang sebesar 2,75% yoy, dan juga lebih besar dari konsensus yang dihimpun Bloomberg sebesar 2,91%.

"Adapun dibandingkan dengan periode sebelumnya, kecuali 2022, inflasi Ramadan tahun ini relatif lebih tinggi," kata Amalia.

Komoditas yang memberikan andil sumbangan inflasi terbesar, lanjut Amalia, adalah telur ayam ras, daging ayam ras, beras, cabai rawit, dan bawang putih. Sementara yang mengalami deflasi atau penurunan harga adalah cabai merah, tomat, dan tarif angkutan udara.

Tekanan makin kuat usai Otoritas Jasa Keuangan resmi mengakhiri kebijakan stimulus restrukturisasi kredit perbankan untuk dampak Covid-19, di Maret 2024.

Berakhirnya kebijakan tersebut seiring dengan pencabutan status pandemi Covid-19 oleh Pemerintah pada Juni 2023 silam, mempertimbangkan laju ekonomi Indonesia yang telah pulih dari dampak pandemi, termasuk kondisi sektor riil.

Restrukturisasi kredit yang diterbitkan sejak awal 2020 telah banyak dimanfaatkan oleh debitur terutama pelaku UMKM. Stimulus restrukturisasi kredit merupakan bagian dari kebijakan countercyclical dan merupakan kebijakan yang sangat penting (landmark policy) dalam menopang kinerja debitur, perbankan, dan perekonomian secara umum untuk melewati periode pandemi.

Adapun hasil survei OJK menunjukkan terdapat potensi peningkatan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan setelah kebijakan berakhir.

Dalam Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) Triwulan I 2024 yang melibatkan 100 responden dari berbagai bank, mayoritas responden meyakini risiko perbankan pada kuartal ini masih terjaga dan terkendali. Ini tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 53 atau masih berada di zona optimistis, meskipun menurun dibanding kuartal sebelumnya sebesar 58.

“Namun demikian, masih terdapat potensi peningkatan NPL yang berasal dari pemburukan kredit restrukturisasi Kol 1 dan Kol 2, seiring berakhirnya kebijakan restrukturisasi secara keseluruhan pada Maret 2024,” tulis survei SBPO Triwulan I 2024.

Merespons hal tersebut, Analis Bloomberg Intelligence Sarah Jane Mahmud dalam catatannya menilai, sektoral perbankan Indonesia mungkin terlihat akan sedikit tergelincir dari sisi kualitas asetnya.

“Melihat sisi kualitas aset akan sedikit terjadi penurunan, dengan kebijakan restrukturisasi pinjaman yang telah berakhir pada 31 Maret dan diperburuk oleh inflasi, yang menanjak hingga di atas 3% bulan lalu karena permintaan pangan yang lebih tinggi. Rasio kredit bermasalah di seluruh sistem negara itu bisa tergelincir dari 2,2% yang dilaporkan pada bulan Desember” terang Sarah, Senin.

IHSG dan sejumlah Bursa Asia terpapar gerak yang berseberangan di tengah pernyataan Biro Statistik Nasional pada Minggu, yang merilis data Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (Purchasing Managers Index/PMI) berhasil mengalami peningkatan pada Maret untuk pertama kalinya sejak September, meningkat menjadi 50,8.

Indeks Aktivitas non-Manufaktur juga menguat menjadi 53 di Maret, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya 51,5. Adapun angka di atas 50 mencerminkan laju ekspansi dari bulan sebelumnya, sementara angka di bawahnya menggambarkan kontraksi.

Seperti yang diwartakan Bloomberg News, angka tersebut menunjukkan bahwa negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut telah mempertahankan daya tariknya setelah awal tahun yang solid dan dapat memberi pembuat kebijakan lebih banyak waktu untuk menilai dampak dari langkah-langkah stimulus sebelumnya.

Aktivitas Industri China rebound pada bulan Maret, memutus penurunan lima bulan berturut-turut, mencerahkan prospek di negara tersebut. Tak hanya sampai di situ, China juga telah menetapkan target untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) di kisaran 5% tahun ini.

(fad)

No more pages