Selain persoalan teknis peleburan, perusahaan juga mengembangkan inovasi pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk pemodelan keuangan serta gagasan di bidang energi dan keberlanjutan.
"Beragam karya tersebut menunjukkan bahwa upaya peningkatan efisiensi tidak hanya dilakukan melalui perbaikan proses teknis, tetapi juga melalui penguatan proses bisnis dan pengelolaan sumber daya perusahaan," tutur dia.
Inovasi tersebut lahir lewat Transformation & Improvement Summit (TIS) 2026 yang berhasil menghimpun 119 karya inovasi dari 273 inovator di lingkungan perseroan.
Kinerja Produksi
Di sisi lain, Inalum mencatat total realisasi produksi aluminium sepanjang Januari—Agustus 2026 mencapai 189.334 ton atau tumbuh 2% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang sebanyak 186.468 ton.
Sementara itu, total penjualan tercatat mencapai sebanyak 186.674 ton, alias hampir tidak mengalami perubahan, atau naik tipis 0,4% dari periode yang sama pada tahun lalu yang sejumlah 186.001 ton.
Beban biaya yang dikeluarkan perseroan mencapai Rp6,9 triliun atau naik tipis 1% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, gegara terdapat kenaikan produksi.
Inalum menargetkan produksi aluminium pada 2026 mencapai 278.000 ton, relatif stagnan bahkan turun tipis 0,7% dibandingkan dengan realisasi produksi 2025 sebanyak 280.082 ton. Sementara itu, penjualan ditargetkan sekitar 275.010 ton aluminium.
(ibn/del)





























