Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tutup Perdagangan di Bawah Rp18.100/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
05 November 2026 15:31

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah ditutup menguat 0,46% ke Rp18.082/US$ pada perdagangan spot Kamis (5/11/2026), tertopang sentimen data ekonomi domestik yang tumbuh sebesar 5,47% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari 5,29% pada kuartal II-2026. 

Dari sisi eksternal, harga minyak yang landai di US$94/barel mendorong laju penguatan rupiah bersama mata uang Asia lainnya. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) juga terpangkas  0,13% ke 101,43, diikuti yield US Treasury turun 2 basis poin (bps) ke 4,87%. 

Rupiah menguat bersama mata uang Asia. (Bloomberg)

Di pasar valuta Asia, peso Filipina menguat paling tajam, disusul baht Thailand, rupiah, ringgit Malaysia, rupee India, dolar Singapura, yen Jepang. Sementara, yuan offshore, dan yuan China, juga won Korea Selatan menguat lebih terbatas. Sebaliknya, dolar Taiwan melemah. 


Sementara pasar obligasi juga kian semringah. Turunnya yield di pasar pendapatan tetap negara-negara utama membawa angin segar bagi pasar Asia. Obligasi pemerintah Jepang memangkas yield 4 bps jadi 2,76%, diikuti Korea Selatan turun 7 bps jadi 3,87%. 

Adapun yield obligasi Malaysia dan Thailand turun masing-masing  2,3 bps dan 5,7 bps jadi 3,78% dan 1,98%. Sementara Indonesia turun 9 bps jadi 7,58%.