Logo Bloomberg Technoz

Sentimen Global Topang Rupiah, Pertumbuhan Ekonomi Jadi Katalis

Tim Riset Bloomberg Technoz
05 November 2026 08:14

Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah berpotensi mengalami konsolidasi dengan bias penguatan, menyusul anjloknya harga minyak mentah 8,67% hingga ke US$94,62/barel. Penurunan harga minyak didorong oleh ekspektasi perang Timur Tengah berpotensi berakhir, setelah Partai Demokrat menang dalam pemilihan paruh waktu (midterm election) di Amerika Serikat (AS). 

Indeks dolar AS ikut melemah ke 101,56, diikuti penurunan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 9 basis poin (bps) ke 4,87%. Kombinasi ini membawa mata uang kawasan sebagian bergerak di zona hijau. Baht Thailand menguat 0,26%, diikuti yen Jepang, yuan offshore, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong. Sebaliknya, won Korea Selatan melemah bersama ringgit Malaysia pagi ini. 

Sementara itu, rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) kembali stabil di kisaran Rp18.130/US$ pada 07:50 WIB, setelah sempat melemah ke Rp18.160/US$ pagi tadi. 

Mata uang Asia. (Bloomberg)

Penguatan mata uang Asia juga didukung oleh aksi beli di pasar obligasi. Yield Jepang terpangkas 1,9 bps ke 5,9%, diikuti obligasi Malaysia yang stabil di 3,8%, dan Korea Selatan di 3,94%. Begitu juga dengan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang terpangkas ke 7,67%. 

Di sisi domestik, terlepas dari sengkarut politik yang bertambah rumit setelah mencuatnya dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto, pasar juga masih menimbang prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meskipun melambat, pertumbuhan ekonoi diproyeksikan solid dan masih berada di kisaran 5,2% pada kuartal III-2026.