Logo Bloomberg Technoz

Kendati begitu, Destry juga tak memungkiri bahwa pergerakan rupiah juga dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun global, termasuk sentimen pasar. 

Sehingga, intervensi memang tetap diperlukan ketika tekanan sentimen membuat nilai tukar bergerak menyimpang dari fundamentalnya.

"Adanya intervesi itu untuk menyeimbangkan pada saat [Rupiah] terjadi diluar fundamentalnya, pada saat terjadi sentimen merusak pola nilai sesunggahnya dari rupiah. Sehingga itu yang menyebabkan intervensi menjadi salah satu langkah kami, disamping kebijakan lainnya," pungkasnya. 

Sebagai catatan, rupiah pada Selasa (3/11/2026) kemarin terpeleset 0,01% saat dibuka, dan berada di Rp18.151/US$. Tak lama berselang, rupiah balik arah pada 09:03 WIB dengan menguat terbatas 0,03% ke Rp18.145/US$, sejalan dengan mata uang Asia yang mayoritas bergerak di zona hijau.

Harga minyak yang terpangkas hingga turun ke US$104,77/barel, menyusul adanya sentimen positif atas upaya penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, baru-baru ini. 

Penguatan rupiah pagi ini juga ditopang sentimen terkait data inflasi yang lajunya tak sekencang perkiraan, yakni 3,28%. Sebelumnya, inflasi diperkirakan menembus 3,3%. Meski begitu, inflasi ke depan tetap diperkirakan tinggi lantaran harga minyak masih bertahan di atas US$100/barel. 

(lav)

No more pages