Dengan kata lain, dia menilai peningkatan aktivitas manufaktur dalam negeri secara agregat tidak serta-merta sejalan dengan perbaikain permintaan di pasar domestik, khususnya industri hulu tekstil.
"Namun, hal ini perlu dicermati oleh pemerintah bahwa ada masalah freight cost yang mahal karena efek perang Timur Tengah," tutur dia.
S&P Global sebelumnya resmi merilis angka PMI Manufaktur Indonesia per Oktober berada di level 54,0, atau naik dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di 52,4.
Torehan tersebut juga menjadi level rekor tertinggi selama 31 bulan. PMI Manufaktur tersebut juga lebih tinggi dibandingkan PMI manufaktur Jepang (53,3), Vietnam (52,3), China (52,0), Korea Selatan (51,3), Malaysia (51,0), dan Australia (49,6).
Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, menyebut sektor manufaktur Tanah Air mengawali kuartal IV-2026 dengan solid. Ekspansi terjaga, ditopang oleh peningkatan permintaan termasuk ekspor.
“Permintaan yang kuat menjadi tekanan bagi industri penghasil barang, tetapi ini adalah modal untuk perbaikan aktivitas pada bulan-bulan ke depan," kata dia.
(ain)































